Kadin Indonesia: Waspadai Fenomena Decoupling Economics

oleh -513 Dilihat
Wakil Ketua Umum Analisis Kebijakan Makro Mikro Ekonomi Kadin Indonesia, Aviliani.(Foto: istimewa)

JAKARTA, bisnisjogja.id – Wakil Ketua Umum (WKU) Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin Indonesia, Aviliani mengungkapkan terdapat dua negara besar yakni US dan Tiongkok yang sedang memberikan berbagai paket insentif untuk menarik investasi masuk ke dalam negerinya.

”Karena itu, pemerintah perlu memperhatikan dampak kebijakan tersebut ke dalam negeri. Kita ketahui perekonomian nasional selain konsumsi domestik, juga didorong oleh investasi asing dan dalam negeri,” papar Aviliani.

Ia memaparkan pendapatnya dalam forum ”Kadin: Global & Domestic Economic Outlook 2025” yang dibuka Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya N Bakrie.

Sementara itu, Kakomtap Kajian Ekonomi Global Strategis, Enrico Tanuwidjaja dan Kakomtap Kajian Sektoral & Pelaku Industri David E Sumual memaparkan kepastian perekonomian ke depan adalah ketidakpastian.

Berebut Pengaruh

”Global fragmented terjadi akibat negara dua adi daya yakni US dan Tiongkok berebut pengaruh dalam berbagai aspek. Bagi Amerika Serikat our currency is your problem, dan bagi Tiongkok our production is your problem,” ujar David.

Menurutnya, ”pereseturuan” kedua negara tersebut dapat menjadi peluang bagi Indonesia untuk mendapatkan manfaat. Kemenangan Presiden Trump tentu menjadi hal yang telah diduga oleh banyak pelaku pasar.

EKONOMI 2025:Pembicara kunci, narasumber dan moderator forum ”Kadin: Global & Domestic Outlook 2025” di Jakarta.(Foto: istimewa)

Hal itu berdampak pada kebijakan cut tax, akan menjadi insentif menarik bagi pelaku usaha di AS menahan uangnya di dalam negeri mereka. Tiongkok juga mengeluarkan insentif yang tidak kalah besar dalam ”Bazooka Stimulus”.

”Walaupun Trump melakukan ancaman bahwa negara yang melepas USD akan dikenakan tarif hingga 100 persen, namun sebagai langkah strategis jangka panjang negara emerging dan middle income perlu bahu-membahu bekerja sama untuk mengurangi pengaruh USD,” imbuh Enrico.

Suku Bunga

Avialiani menambahkan berdasarkan beberapa konsensus pasar, The Fed dinilai paling banyak akan menurunkan suku bunga tiga kali di kisaran 0,25-0,5 persen. Sebagai respon kebijakan FFR, banyak pihak menilai Bank Indonesia pada tahun 2025 juga akan menurunkan suku bunga paling banyak dua kali di kisaran 0,25-0,5 persen.

”BI Rate akan berada dalam rentang 5,25-5,5 persen. Banyak yang mengatakan nilai tukar masih berada di kisaran Rp 16.000. Tetapi saya rasa dengan kondisi saat ini dapat lebih dari sasaran yang telah dibuat, melebihi Rp 16.000,” jelas Aviliani yang juga komisaris salah satu bank swasta.

Paket kebijakan Pemerintah Tiongkok untuk menjaga resiliensi perekonomian domestik terutama sektor manufaktur. Ini tentu menjadi concern yang harus diwaspadai. Pemerintah Tiongkok dinilai juga akan mengucurkan stimulus dengan sangat berhati-hati.

”Idealnya pemerintah dapat melakukan orkestrasi dari tantangan perekonomian global sebagai peluang untuk mendorong kesejahteraan publik,” tegasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.