- Kemajuan ditentukan oleh kepemimpinan.
- Ekonomi tumbuh bukan dari gedung tinggi, tetapi dari denyut kehidupan rakyat.
- Yogyakarta bukan hanya ruang nostalgia, tetapi ruang masa depan.
SEJARAH, selalu mengajarkan kepada kita, satu pelajaran sederhana, namun mendalam: bahwasanya, peradaban yang bertahan bukanlah yang paling besar, melainkan yang paling lentur menghadapi perubahan.
Pohon yang kaku, akan patah diterpa angin, tetapi bambu yang luwes justru tetap tegak berdiri. Keluwesan itulah, yang hari ini menjadi kunci bagi dunia usaha.
Saat ini, dunia sedang bergerak sangat cepat. Rantai pasok bergeser, pola konsumsi berubah, teknologi berkembang tanpa jeda, dan persaingan tidak lagi mengenal batas wilayah. Namun di tengah perubahan sebesar apa pun, satu hal tetap konstan: kemajuan, akan ditentukan oleh kepemimpinan.
Pun demikian, peran leadership di dunia industri. Bukan semata-mata mesin, bukan sekadar modal, tetapi ketajaman rasa, kejernihan akal, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Sejumlah pemikiran manajemen global, bahkan menegaskan, bahwa kegagalan organisasi memetik manfaat inovasi, jarang disebabkan oleh teknologinya, melainkan oleh ketidakmampuan pemimpinnya menata ulang proses kerja, budaya, dan kapasitas sumber daya manusia . Dengan kata lain, perubahan kerap dimulai dari kepemimpinan.
Membangun Kekuatan Bersama
Bila kita menengok praktik dunia, kita belajar dari Mittelstand di Jerman, jejaring usaha kecil dan menengah yang tekun, bersifat spesialis, dan berakar kuat di daerahnya. Pun kita belajar dari Jepang, di mana koperasi industri dan rantai pemasok, saling menopang seperti anyaman bambu.
Toyota, menjadi besar bukan karena satu pabrik raksasa, tetapi karena ribuan pelaku usaha kecil, yang bekerja disiplin dan presisi.
Mereka membangun kekuatan melalui kebersamaan. Melalui ekosistem, bukan ”ego-sistem”. Dan sesungguhnya, karakter seperti itulah yang sejak lama hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Ekonomi kita tumbuh, bukan dari gedung-gedung tinggi, tetapi dari denyut kehidupan rakyat. Dari sawah yang menumbuhkan padi. Dari dapur-dapur UMKM, yang mengolah hasil bumi. Dari bengkel kerajinan yang menatah kayu, perak, dan kulit. Dari sanggar seni, studio kreatif, dan ruang-ruang gagasan yang melahirkan inovasi. Dari kampung wisata, yang menyambut tamu dengan keramahan budaya.
Pangan Menopang Kehidupan
Sektor pangan adalah akar. Ia menopang kehidupan, menjaga ketahanan, dan memberi makan generasi demi generasi. Pariwisata adalah wajah. Ia memperkenalkan jati diri kita kepada dunia, bukan sekadar sebagai destinasi, tetapi sebagai peradaban.
Ekonomi kreatif adalah jiwa. Dari sanalah lahir imajinasi, identitas, dan kebanggaan. Manufaktur serta industri kecil adalah otot, yang bekerja tekun setiap hari, mengubah bahan mentah menjadi nilai tambah, dan menggerakkan kesejahteraan demi keluarga.
Akar, wajah, jiwa, dan otot, bila bergerak bersama, itulah tubuh ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta, yang utuh dan tangguh.
Karena itu, pemberdayaan UMKM bukan sekadar program ekonomi. Ia adalah strategi kebudayaan. Strategi kemandirian. Strategi masa depan. Inilah makna falsafah ”Hamemayu Hayuning Bawana”, yang terjabar dalam kewajiban ”Tri Satya Brata”.
Kita wajib Hamangku Bumi: menjaga tanah, air, dan lingkungan. Maka pembangunan ekonomi harus lestari.
Kita wajib Hamêngku Nagârâ: menjaga negara. Maka dunia usaha harus menjadi mitra strategis pemerintah, menciptakan kerja, memperkuat kedaulatan ekonomi, serta menghadirkan stabilitas.
Dan kita wajib memuliakan manusia: rahayuning manungsa dumadi karana kamanungsane. Bahwa, keselamatan manusia lahir dari kemanusiaannya itu sendiri. Maka ekonomi harus inklusif, tidak meninggalkan siapapun.
Manusia sebagai Pengarah Strategi
Di tengah perubahan global, kepemimpinan dunia usaha dituntut adaptif, kolaboratif, dan menjadi eskosistem pembelajar sepanjang hayat. Menempatkan teknologi sebagai penguat, dan manusia tetap sebagai pengarah strategi . Pemimpin, bukan lagi sekadar pengawas, melainkan mentor, pelatih, dan penggerak bersama.
Kita juga belajar, bahwa terlalu lama menunggu kepastian, justru membuat organisasi tertinggal. Banyak perubahan besar, lahir dari keberanian melangkah di tengah ketidakpastian. Dalam dunia usaha, status quo atau memilih diam, akan jauh lebih berisiko daripada menempuh perubahan.
Dalam kerangka itulah, Kadin memiliki peran yang sangat strategis. Kadin adalah simpul. Simpul antara pengusaha kecil dan besar. Simpul antara kebijakan dan pelaku usaha. Simpul antara lokal dan global.
Dari simpul inilah lahir kolaborasi, kepercayaan, dan gotong royong. Melalui Kadin, kita berharap semakin banyak local champion tumbuh. Pengusaha pangan, yang menembus pasar nasional. Perajin yang menembus ekspor. Pelaku kreatif yang mendunia. Industri kecil yang naik kelas menjadi tulang punggung ekonomi.
Yogyakarta Pusat Kewirausahaan
Saya menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus Kadin DIY, yang dilantik dan dikukuhkan. Amanah ini adalah panggilan, agar dunia usaha DIY semakin tangguh, inklusif, dan berdaya saing. Teriring pula, apresiasi kepada jajaran pengurus lama, atas segala dedikasi dan kerja terbaik yang dikontribusikan.
Mari jaga Yogyakarta, bukan hanya sebagai entitas budaya, tetapi juga sebagai pusat kewirausahaan. Bukan hanya tempat berwisata, tetapi tempat bertumbuhnya gagasan dan usaha. Bukan hanya ruang nostalgia, tetapi ruang masa depan.
Bila demikian adanya, ketika dunia usaha tumbuh bersama nilai kemanusiaan, ketika kemajuan berjalan seiring kelestarian, dan ketika kesejahteraan dirasakan bersama, maka kita sejatinya sedang menapaki satu laku besar: memperindah dan menyejahterakan dunia.
- Disampaikan Gubernur DIY Hamengku Buwono X pada Pelantikan Pengurus Kadin DIY, Sabtu (31/1/2026), di Hotel Alana Yogyakarta.





