”Dalam situasi seperti sekarang, pejabat, wakil rakyat dan aparat dapat memberikan pernyataan yang menyejukan rakyat, bukan malah membuat emosi rakyat terpancing,” pinta Purnawan Hardianto, anggota Bidang Ekonomi Pembangunan dan Regional ISEI Cabang Yogyakarta.
JOGJA, bisnisjogja.id – Telah terjadi demonstrasi di gedung DPR RI, Senayan, Jakarta (Senin, 25/08/2025). Demonstrasi meluas ke berbagai daerah. Unjuk rasa tersebut merupakan wujud bentuk protes publik atas kemewahan tunjangan anggota DPR RI dan ketidakpekaan pemerintah pada rakyat di tengah kesulitan ekonomi.
Unjuk rasa kembali berlanjut, diawali siang hari oleh kelompok buruh dan dilanjutkan mahasiswa dan pelajar pada sore hingga malam hari. Demonstrasi berakhir rusuh, sampai memakan korban jiwa pengemudi ojek online, Affan Kurniawan.
Affan meninggal akibat dilindas kendaraan taktis (rantis) Brimob Polri. Kematiannya memicu kemarahan publik, hingga demonstrasi tak hanya terjadi di Jakarta, tetapi di berbagai kota besar lain yang berlangsung rusuh.
Bagimana dampak unjuk rasa yang disertai kerusuhan dan berkepanjangan terhadap perekonomian? Jawaban atas pertanyaan terebut dijawab oleh beberapa pengurus Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta dari unsur akademisi dan pengusaha.
Iklim Ivestasi
”Demo anarkis telah memberi dampak yang tidak baik bagi investor,” ungkap Purnawan Hardianto, dosen UKWD Yogyakarta.
Menurutnya, unjuk rasa rusuh yang terjadi semakin memperparah iklim investasi. Investor melakukan wait and see, menunggu situasi sosial politik kembali stabil dan tenang.
”Ketidakpercayaan rakyat kepada wakil rakyat, aparat dan juga pemerintah membuat munculnya rasa khawatir dari para investor,” tandasnya.
Ia menjelaskan dalam situasi kemampuan pemerintah yang sedang terbatas, dana investasi swasta diharapkan dapat menggairahkan perekonomian, karena kesempatan kerja bertambah sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.
”Dalam situasi seperti sekarang, pejabat, wakil rakyat dan aparat dapat memberikan pernyataan yang menyejukan rakyat, bukan malah membuat emosi rakyat terpancing,” pinta Purnawan yang juga anggota Bidang Ekonomi Pembangunan dan Regional ISEI Cabang Yogyakarta.
Kontraksi
Dosen FEB UMY, Ahmad Ma’ruf mengatakan demonstrasi anarkis dan berlanjut akan membuat ekonomi kontraksi dalam jangka pendek.
Ia menilai akibat kepongahan oknum dewan dan kebijakan pemerintah yang tidak peka kondisi masyarakat menjadikan timbulnya biaya sosial dan ekonomi.
Sikap polisi yang tidak profesional semakin memicu reaksi negatif dari rakyat. Ujungnya stabilitas ekonomi terkoyak dan menjadikan kondisi ekonomi semakin berat termasuk iklim investasi yang tidak kondusif.

”IHSG ambruk 2,69 persen ke 7.620 pada sesi pembukaan Senin (1/09/2025), lalu anjlok 3,51 persen,” jelas Bendahara Kadin DIY, Dian Ari Ani.
Menurutnya, nyaris semua saham merah di tengah kekhawatiran kerusuhan lanjutan yang terjadi pada awal minggu ini. Kemungkinan rupiah akan melemah khususnya terhadap dollar AS, kemudian diikuti kerugian di sektor bisnis, dunia usaha.
”Melemahnya rupiah dapat mendorong terjadinya kenaikan harga barang dan jasa, melalui imported inflation dan cost push inflation,” jelas Dian yang juga Bendahara ISEI Cabang Yogyakarta.
Kondisi ini tentu kurang menguntungkan bagi daya beli masyarkat. Unjuk rasa yang berkepanjangan juga dapat berdampak beberapa negara mengeluarkan travel warning bagi warga negaranya yang akan berkunjung ke Indonesia.
Kelola Konflik
”Demo yang berlarut-larut tanpa respons kebijakan yang jelas akan memperdalam ketidakpercayaan,” tandas Jonathan EW (Ekonom Muda ISEI Cabang Yogyakarta).
Menurut Jonatahan, investor tidak semata menilai fundamental ekonomi, tetapi juga kualitas governance dan kapasitas negara dalam mengelola konflik sosial.
”Kecepatan dan kualitas respons pemerintah menjadi faktor penentu apakah pasar akan kembali percaya atau justru semakin ragu,” tegasnya.
Fakta itu mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari stabilitas politik dan sosial. Tanpa fondasi tersebut, segala proyeksi pertumbuhan hanya menjadi angka rapuh.
”Kiat semua berharap, unjuk rasa tidak berkepanjangan dan segera berakhir,” harap Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta, Y Sri Susilo.
Menurut Susilo, demonstrasi dengan kerusuhan jelas merugikan aktivitas ekonomi dan nonekonomi. Beberapa kota sudah menerapkan work from home dan belajar serta kuliah daring. Ini tentu mengurangi produktivitas.
”Roda aktivitas ekonomi, produksi dan distribusi akan terganggu dengan unjuk rasa yang bernuansa kerusuhan,” tegas Susilo yang juga dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY.







