- Kebiasaan mengeluh yang berlebihan membentuk cara berpikir negatif.
- Ketika hidup terus dipenuhi kekhawatiran, setiap persoalan kecil berubah menjadi beban besar.
- Tidak semua persoalan dapat dihindari dan tidak semua harapan akan terwujud sesuai keinginan.
BELAKANGAN ini, budaya sambat (mengeluh) menjadi bagian dari gaya hidup. Sedikit-sedikit mengeluh, sedikit-sedikit menyalahkan keadaan. Media sosial dipenuhi keluhan tentang ekonomi, pekerjaan, keluarga, politik, bahkan cuaca. Obrolan di warung kopi, kantor, hingga grup WhatsApp tidak jarang berubah menjadi arena saling melampiaskan kekesalan.
Padahal, tidak semua keluhan menghadirkan solusi. Justru sebaliknya. Kebiasaan mengeluh yang berlebihan membentuk cara berpikir negatif, menguras energi psikis, mengganggu kesehatan, bahkan mengikis kualitas spiritual seseorang.
Mengeluh memang merupakan respons alami ketika manusia menghadapi tekanan hidup. Namun, ada perbedaan mendasar antara mengungkapkan kesulitan untuk mencari solusi dan menjadikan keluhan sebagai kebiasaan. Pertama, dapat menjadi jalan keluar. Dan kedua, justru melahirkan lingkaran masalah yang semakin sulit diputus.
Ilmu neurosains menjelaskan bahwa otak manusia bersifat plastis (neuroplasticity), yakni mampu berubah mengikuti pola pikir yang terus diulang. Steven Parton mengutip prinsip, “Synapses that fire together wire together.”
Jalur-jalur saraf yang sering diaktifkan akan semakin kuat. Ketika seseorang setiap hari mengulang keluhan, kekhawatiran, dan pikiran negatif, otaknya perlahan terbiasa memandang kehidupan dari sisi yang suram. Sebaliknya, jika seseorang melatih rasa syukur dan optimisme, jalur berpikir positif juga akan semakin dominan.
Kelelahan Mental
Kondisi tersebut tidak berhenti pada cara berpikir. Pikiran yang terus dipenuhi kecemasan memicu meningkatnya hormon kortisol sebagai respons terhadap stres. Dalam jangka pendek, mekanisme ini berguna untuk mempertahankan diri. Namun apabila berlangsung terus-menerus, stres kronis justru merusak tubuh.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan kortisol yang berkepanjangan berkaitan dengan menurunnya fungsi hippocampus, bagian otak yang berperan dalam memori, kemampuan belajar, dan pengambilan keputusan. Tidak mengherankan apabila orang yang terlalu larut dalam keluhan sering sulit berkonsentrasi, mudah lupa, kehilangan motivasi, serta mengalami kelelahan mental.
Gangguan psikologis itu kemudian merambat menjadi gangguan fisik. Ilmu kedokteran telah lama menjelaskan hubungan erat antara kondisi kejiwaan dan kesehatan tubuh. Stres kronis berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan darah, gangguan lambung, penyakit jantung, stroke, diabetes, gangguan tidur, hingga melemahnya sistem kekebalan tubuh. Tubuh sesungguhnya sedang berbicara tentang apa yang terlalu lama dipendam oleh pikiran.
Kearifan lokal masyarakat Jawa sejak lama telah menangkap kenyataan tersebut melalui ungkapan sederhana, “Urip kuwi dilakoni, ojo mung mbok pikir thok.” Hidup itu dijalani, bukan hanya dipikirkan. Berpikir memang diperlukan, tetapi secukupnya. “Mikir urip ya sak perlune”.
Ketika hidup terus dipenuhi kekhawatiran, setiap persoalan kecil berubah menjadi beban besar. Pikiran menjadi sempit, hati dipenuhi kecemasan, lalu sambat berkembang tanpa kendali. Dari sanalah stres perlahan mengambil alih kehidupan.
Dampak Sosial Keluhan
Keluhan yang terus diulang juga memiliki dampak sosial. Dalam psikologi dikenal konsep emotional contagion, yaitu kecenderungan emosi seseorang menular kepada orang lain. Wajah muram, ucapan pesimis, dan keluhan yang diulang setiap hari dapat membentuk suasana negatif di lingkungan sekitar.
Anak-anak belajar dari orang tuanya, bawahan menyerap emosi pemimpinnya, dan masyarakat membangun persepsi melalui percakapan sehari-hari. Tidak sedikit keluarga kehilangan kehangatan bukan karena kekurangan materi, melainkan karena rumah dipenuhi keluhan yang tidak pernah selesai.
Islam memberikan perspektif yang sangat jernih dalam memandang persoalan ini. Al-Qur’an tidak melarang seorang hamba mengadukan kesedihan. Namun tempat mengadu yang utama adalah Allah SWT. Nabi Ya’qub AS berkata, “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku” (QS. Yusuf: 86). Ayat ini menunjukkan bahwa mengadu kepada Allah merupakan bentuk penghambaan sekaligus pengakuan bahwa pertolongan sejati hanya berasal dari-Nya.
Sebaliknya, menjadikan keluhan kepada manusia sebagai kebiasaan tanpa disertai ikhtiar dipandang sebagai akhlak yang tidak terpuji. Dalam Riyadhu Akhlaqis Shalihin, Syekh Ahmad bin Muhammad Abdillah menukil nasihat para ulama bahwa orang yang terus-menerus mengadukan kesulitannya kepada manusia seakan-akan sedang mengadukan Tuhannya kepada makhluk. Pesan ini bukan menutup pintu untuk meminta nasihat atau pertolongan, melainkan mengingatkan agar hati tidak terjebak pada sikap meratapi takdir.
Mengikis Rasa Syukur
Mengeluh yang berlebihan juga berpotensi mengikis rasa syukur. Padahal syukur merupakan fondasi kesehatan spiritual sekaligus kesehatan psikologis. Allah SWT berfirman, “Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu” (QS. Ibrahim: 7). Dalam kajian psikologi positif, rasa syukur juga terbukti berkaitan dengan meningkatnya kebahagiaan, optimisme, kepuasan hidup, kualitas hubungan sosial, dan daya lenting ketika menghadapi tekanan.
Rasulullah SAW mengajarkan cara pandang yang membebaskan manusia dari jebakan sambat. Dalam urusan dunia, beliau menganjurkan agar melihat kepada orang yang berada di bawah sehingga nikmat yang dimiliki tidak terasa kecil.
Sebaliknya, dalam urusan iman dan amal saleh, seseorang dianjurkan melihat mereka yang lebih baik agar tumbuh semangat memperbaiki diri. Cara pandang ini menjaga keseimbangan antara rasa cukup dan semangat untuk terus bertumbuh.
Pada akhirnya, hidup memang tidak pernah lepas dari ujian. Tidak semua persoalan dapat dihindari dan tidak semua harapan akan terwujud sesuai keinginan. Namun, selalu ada pilihan tentang bagaimana seseorang merespons kenyataan.
Apakah hari-harinya dipenuhi sambat yang menguras tenaga, atau dipenuhi ikhtiar yang disertai doa dan rasa syukur. Di antara dua pilihan itulah kualitas hidup, kesehatan jiwa, kekuatan iman, dan ketenangan batin perlahan dibentuk dari hari ke hari.
- Penulis, Yuliantoro, Alumnus Sosiologi Fisipol UGM.






