JOGJA, bisnisjogja.id – Impor pakan ternak hijauan alfalfa pada tahun 2023 mencapai 20.644.450 kg dengan nilai 9.034.878 dolar AS. Ketergantungan impor pakan ternak menjadi tantangan serius bagi sektor peternakan.
Kebutuhan pakan ternak alfalfa memang tinggi, mencapai 300 ton setiap bulan. Pakan tersebut utamanya untuk ternak perah.
”Sejauh ini memang pakan hijauan alfalfa bagi ternak perah tak tergantikan oleh pakan hijauan lain,” ungkap Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof Bambang Suwignyo.
Kondisi tersebut membuatnya melakukan inovasi agar tak begitu tergantung pada impor. Melalui program Dana Padanan (Kedaireka), ia membuat inovasi ”Optimalisasi Kambing Peranakan Etawa (PE) sebagai Ternak Unggulan di Kulon Progo, Yogyakarta”.
Program tersebut tidak hanya bertujuan meningkatkan produksi susu lokal, tetapi juga mendukung program nasional.
Kerja Sama
Bambang menjelaskan, program tersebut merupakan kerja sama antara UGM dan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo. Salah satu aktivitasnya, membuat demplot alfalfa seluas satu hektare.
Ia sendiri merupakan inventor varietas alfalfa tropik yang telah diakui sebagai plasma nutfah Indonesia oleh PPVT Kementan RI (Nomor 929/PVHP/2021) dengan nama Kacang Ratu BW.
”Program ini mengintegrasikan manajemen pakan dan sistem pertanian terpadu untuk menciptakan rantai produksi yang berkelanjutan,” ujar Bambang.
Salah satu fokus utamanya, penggunaan pakan hijauan unggul, yaitu Alfalfa Tropik (Kacang Ratu BW), yang dalam jangka panjang mampu mengurangi ketergantungan impor.
”Melalui serangkaian kegiatan, kami berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peternak mengelola kambing PE, khususnya manajemen pakan dan produksi susu,” paparnya.
Hasilnya, budi daya Alfalfa Tropik seluas satu hektare. Alfalfa dapat tumbuh dengan baik dengan produksi segar berkisar antara 10 – 18 ton/hektare.
Alfalfa Tropik dapat menjadi alternatif pakan hijauan berkualitas tinggi yang proyeksi jangka panjangnya dapat menggantikan sebagian kebutuhan impor alfalfa.





