Inovasi Mahasiswa Peternakan, Kembangkan Pakan Ternak Organik

oleh -434 Dilihat
Ilustrasi produk pakan ternak organik, Fermaze.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Industri peternakan ayam petelur di Indonesia terus menunjukkan perkembangan pesat. Pada pertengahan 2025, produksi nasional mencapai 6,52 juta ton.

Dampaknya, permintaan protein hewani tinggi membuat sektor ini semakin dilirik oleh peternak muda hingga investor agribisnis.

Namun demikian, di balik peluang besar tersebut, muncul tantangan serius, yakni limbah kotoran ayam yang menimbulkan pencemaran udara, air, hingga risiko kesehatan masyarakat akibat gas amonia dan hidrogen sulfida dari proses dekomposisi.

Jangan khawatir! Tim PKM-K Fermaze UGM menghadirkan solusi inovatif berupa suplemen pakan ayam petelur berbahan organik bernama Fermaze.

Tim ini beranggotakan Renata Satriatama Ranukumbolo (Fakultas MIPA 2023), Najwa Ramadhani (Fakultas Teknologi Pertanian 2023), Dimas Landung Ghofaro (Fakultas Peternakan 2023).

Ada pula Afifah Diaz Restu Mawarni (Fakultas Peternakan 2023), dan Armedina Radine (Sekolah Vokasi 2024) dengan dosen pendamping Ir Galuh Adi Insani MSc, dosen Fakultas Peternakan (Fapet) UGM.

Kurangi Pencemaran

Ketua Tim Fermaze, Renata Satriatama Ranukumbolo mengungkapkan fermaze dikembangkan dengan memanfaatkan maggot Black Soldier Fly (BSF) yang mampu mendegradasi limbah kotoran ayam.

Proses ini tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga mengoptimalkan nutrisi yang bisa kembali diserap ayam. Selain itu, maggot BSF berperan sebagai sumber protein berkualitas, sehingga mencegah defisiensi gizi pada ayam petelur.

”Fermaze diformulasikan dengan tambahan tepung tulang sebagai sumber kalsium, mineral penting untuk pembentukan cangkang telur. Dengan 94 persen cangkang telur terdiri dari kalsium, keberadaan nutrisi ini sangat krusial agar hasil telur tidak tipis, rapuh, atau cacat,” papar Tama.

Ia menjelaskan fermaze tidak hanya sekadar suplemen pakan alternatif, tetapi juga wujud nyata dari ekosistem peternakan berkelanjutan.

”Kami ingin mengolah limbah menjadi sumber daya baru yang bermanfaat, sehingga bisa menekan biaya produksi, menjaga lingkungan, sekaligus memperkuat daya saing peternak kecil,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.