JOGJA, bisnisjogja.id – Hubungan antara pariwisata dan kuliner bersifat simbiosis mutualisme, di mana makanan khas lokal menjadi daya tarik utama sekaligus identitas budaya yang memperkuat pengalaman berwisata.
Kuliner bukan lagi sekadar pelengkap perjalanan, melainkan telah menjadi salah satu daya tarik utama (core product) yang mendorong seseorang untuk berwisata.
Yogyakarta sebagai kota pariwisata tentunya didukung oleh wisata kuliner. Saat ini kuliner di Yogyakarta identik dengan gudeg. Di sisi lain, banyak variasi makanan dan minuman tradisional yang tersedia untuk mendukung wisata kuliner tersebut.
Beberapa menu kuliner tradisional yang populer termaksud antara antara lain Bakmi Jawa, Sate Klatak Kambing, Tongseng Kambing, Sup Kaki Kambing, Bakso Sapi, Gorengan, Wedang Ronde, Wedang Jahe, Wedang rempah dan jenis minuman lainnya.
Hotel Alana Yogyakarta
Menu kuliner tersebut tersedia di ”Langgam Roso” yang berlokasi di Hotel Alana, Palagan, Yogyakarta.
”Kami menyiapkan banyak menu di Langgam Roso untuk memudahkan tamu hotel dan penghuni apartemen untuk menikmati kuliner yang popular di Jogja,” jelas GM Hotel Alana Palagan, Agus Anom Suroto.

Menurut Anom menu yang disajikan didasarkan survei dengan responden tamu hotel, penghuni apartemen dan relasi Hotel Alana Palagan Yogyakarta.
”Dari data kami pengunjung atau tamu Langgam Roso proporsinya 60 persen tamu hotel dan penghuni apartemen, selebihnya 40 persen merupakan relasi dan masyarakat umum,” jelas Departemen Marketing Hotel Alana Palagan Yogyakarta, Jay Wijaya.
Ia berharap semakin banyak tamu di luar tamu hotel dan penghuni apartemen yang berkunjung dan menikmati menu makanan dan minuman di ”Langgam Roso”. Untuk diketahui, ”Langgam Roso” buka setiap hari mulai pukul 18.00 – 24.00 WIB.
Tak Perlu Keluar Hotel
Sate klatak dan tongseng kambing menurut seorang tamu enak, empuk dan tidak bau prengus. Dengan demikian, tamu hotel tidak perlu keluar hotel atau pergi ke tempat lain untuk menikmati sajian kuliner.
”Bakso sapi di Langgam Roso tidak kalah enak dan lezat dibandingkan dengan bakso lain yang terkenal di Yogyakarta,” ungkap Guru Besar FE UMBY, Dorothea Wahyu Ariani sembari mengatakan daging sapinya terasa dominan dan kuah kaldunya panas serta cocok dinikmati di sore atau malam hari.
Sementara itu bakmi goreng cita rasanya lezat, tidak kalah dengan bakmi goreng lain yang popular di Yogyakarta. Menurut Claudia Primastika Dewanti – karyawati perusahaan swasta di Jakarta – cita rasa dan porsinya pas apalagi dengan telur bebek dan ayam kampung.
Dalam kesempatan tiga kali berkunjung di ”Langgam Roso”, dosen FBE UAJY Y Sri Susilo menikmati bakmi jawa godog, sate klatak dan sup kaki kambing. Ketiga makanan tersebut tidak kalah dengan makanan sejenis yang popular di Yogyakarta.
”Dari sisi harga juga kompetitif, dalam arti harga yang dibayar sepadan dengan kenikmatan yang diperoleh,” ujar Susilo.






