JOGJA, bisnisjogja.id – Persoalan lapangan kerja tak pernah terselesaikan dengan baik. Padahal Indonesia bakal mengalami lonjakan populasi usia angkatan kerja.
Saking sulitnya mencari pekerjaan, tak sedikit lulusan S1 (sarjana) yang menjadi asisten rumah tangga, perawat orang jompo, perawat bayi dan lainnya.
”Sejumlah tantangan dan ancaman di depan mata apabila minimnya lapangan pekerjaan ini terus berlanjut di tengah lonjakan bonus demografi,” ungkap Dosen Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, UGM, Dian Fatmawati MA.
Menurutnya, membludaknya jumlah tenaga kerja adalah hal yang wajar dalam bonus demografi. Sayangnya, ”bonus” tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh pemerintah.
”Antara tahun 2020-2030 kita punya banyak sekali angkatan kerja, tapi di lain pihak tren lapangan kerja bukannya bertambah malah semakin menurun,” tandasnya.
PHK Massal
Dian mengatakan saat Gen Z kesulitan mencari kerja dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal akhir-akhir menjadi realita yang terjadi.
Situasi ekonomi-politik saat ini sangat tidak menguntungkan bagi ketersediaan lapangan kerja. Ekonomi semakin lesu, daya beli masyarakat menurun, pendapatan produsen menurun, sampai penghasilan masyarakat juga rendah.
”Jika lingkaran tersebut terus berlanjut, bukan tidak mungkin Indonesia akan segera menghadapi krisis ekonomi,” jelas Dian.
Dampak minimnya lapangan kerja dapat berbeda bagi setiap lapisan masyarakat. Bagi yang masih memiliki kemampuan finansial untuk mengasah keterampilan ataupun melanjutkan pendidikan mungkin masih bisa bertahan.
Mereka yang tidak bisa mendapatkan penghasilan tanpa bekerja tentu sangat dirugikan sehingga berisiko memunculkan skill trap atau jebakan keterampilan.
”Mereka terpaksa bekerja di sektor-sektor yang tidak sesuai dengan kompetensi, biasanya mengambil pekerjaan di bawah kualifikasi yang mereka miliki. Ini memunculkan fenomena skill trap,” tambahnya.
Pekerja migran telah menjadi opsi yang menarik. Meskipun banyak lowongan yang umumnya low skilled, tapi yang high skilled juga ada.





