Perbankan Syariah Harus Kuat di Akar Rumput

oleh -425 Dilihat
PASAR BERINGHARJO: Direktur Distribution & Sales Bank Syariah Indonesia, Anton Sukarna, berbelanja di Pasar Beringharjo Yogyakarta sekaligus mendorong penguatan perbankan syariah di akar rumput.(Foto: Priyo Wicaksono)

JOGJA, bisnisjogja.id – Perbankan syariah menjadi salah satu pilihan agar masyarakat dapat melakukan transaksi keuangan secara halal. Karena itu, perbankan syariah harus menyasar hingga ke akar rumput.

”Karena itu, kami berharap melalui pemberdayaan klaster pasar, inklusi jasa keuangan dan perbankan syariah di tataran pelaku ekonomi akar rumput semakin tumbuh dan kian kuat,” tandas Direktur Distribution & Sales Bank Syariah Indonesia, Anton Sukarna.

Hal tersebut sejalan dengan upaya BSI menjadikan ekonomi syariah sebagai salah satu katalis pembangunan ekonomi nasional.

Anton bersama jajarannya melakukan pemberdayaan klaster pasar yang pertama di Indonesia di Pasar Beringharjo Yogyakarta.

Pihaknya memang membidik UMKM yang tersebar di seluruh Indonesia. Terlebih, pelaku UMKM memiliki peran besar terhadap perekonomian nasional.

Mengutip data Kemenko Perekonomian, peran UMKM sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia terlihat dari kontribusinya yang mencapai 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dengan menyerap hampir 97 persen total tenaga kerja di seluruh Indonesia.

Pembiayaan UMKM

BSI sendiri selama ini terus memacu pemberdayaan ekonomi pelaku UMKM. Sebagai informasi, hingga Februari 2025 BSI mencatat penyaluran pembiayaan ke sektor UMKM sebesar Rp52,09 triliun, meningkat 12,69% secara tahunan.

Angka tersebut disalurkan kepada lebih dari 360.000u nasabah yang tersebar di Tanah Air. Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) BSI sebesar Rp 97,45 triliun atau 34,58 persen. Angka ini melampaui target yang ditetapkan oleh regulator.

”Kita semua tahu bahwa pelaku UMKM termasuk yang masuk ekosistem pasar adalah tulang punggung ekonomi nasional,” ujar Anton.

Karena itu harus dijaga secara berkelanjutan, salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi syariah.

Anton menambahkan, untuk mendorong transaksi ritel secara digital, perseroan juga memacu pertumbuhan EDC, dan QRIS BSI.

Hingga 2024, total merchant QRIS BSI di seluruh Indonesia mencapai 448.000 dengan jumlah transaksi mencapai 42,9 juta transaksi dan nilai transaksi Rp 3,5 triliun.

”Sedangkan merchant EDC BSI mencapai 13.000 dengan jumlah transaksi pada periode tersebut mencapai 1,3 juta transaksi. Adapun nilai atau volume transaksinya sebesar Rp 551 miliar,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.