Menyimak Prospek Perhotelan DIY 2026, Persaingan Semakin Ketat

oleh -361 Dilihat
NARASUMBER: Narasumber diskusi menyampaikan gagasannya dengan moderator Ronny S Viko.(Foto: Y Sri Susilo)

JOGJA, bisnisjogja.id – Industri perhotelan DIY masih memiliki peluang untuk tumbuh pada 2026. Hal tersebut mengemuka dalam Diskusi Terbatas Prospek Industri Perhotelan DIY 2026 dan dirangkai dengan acara buka bersama di Hotel Novotel Suites Yogyakarta, Kamis (26/02/26).

Kegiatan strategis tersebut merupakan program ISEI Cabang Yogyakarta bekerja sama dengan Hotel Novotel Suites Yogyakarta, GIPI DIY, PHRI DIY, dan Kadin DIY. Forum menghadirkan pelaku usaha, asosiasi, akademisi, perbankan, otoritas moneter dan otoritas keuangan.

Komisaris Utama PT Bidakara Indah Sejahtera, Budiharto Setyawan selaku pengelola Novotel Suites Yogyakarta Malioboro menyampaikan industri perhotelan DIY saat ini berada pada fase pemulihan.

Berdasarkan data BPS Kota Yogyakarta, BPS DIY, dan PHRI DIY, tingkat okupansi hotel sepanjang 2025–2026 menunjukkan fluktuasi tajam, dengan lonjakan signifikan pada akhir tahun namun melemah drastis di awal tahun. Meski demikian, ia menilai prospek perhotelan DIY masih terbuka jika direspons dengan strategi adaptif.

Tidak Kekurangan Wisatawan

Wakil Ketua Bidang Pengembangan Usaha dan Investasi PHRI DIY, M Arif Effendi, menegaskan industri perhotelan DIY sejatinya tidak kekurangan wisatawan. Persoalan utama justru terletak pada ketimpangan struktur pasar akibat menjamurnya homestay dan akomodasi abu-abu yang tidak seluruhnya mengikuti regulasi.

”Kondisi itu menjadikan cenderung oversupply atau kelebihan pasokan,” ujar Arif yang juga pemilik salah hotel bintang di Yogyakarta.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY, Bobby Ardiyanto SA, menilai tantangan utama industri hotel yakni cara pandang yang masih menempatkan hotel sebagai produk tunggal. Padahal, persaingan regional semakin ketat, sementara wisatawan cenderung memilih menginap di daerah sekitar karena faktor harga.

”Berkaitan dengan kondisi tersebut pengelola hotel harus selalu berkreasi dan berinovasi agar tidak kehilangan pasar,” harap Bobby, pemilik sejumlah hotel di DIY.

Respons Persaingan secara Sehat

Kepala Perwakilan Bank Indonesia DIY, Sri Darmadi Sudibyo, menuturkan penguatan prospek industri perhotelan tidak bisa dilakukan secara parsial. Menurutnya, hotel harus diposisikan sebagai bagian dari rantai nilai pariwisata yang utuh, dengan inovasi produk yang adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen.

”Persaingan dengan villa, guest house, hingga kos eksklusif adalah realitas yang harus direspons bersama,” katanya.

Dengan desain produk yang tepat, daya saing hotel meningkat dan seluruh pelaku usaha bisa tumbuh dalam ekosistem pariwisata yang sehat, demikian harapan Sudibyo.

BUKA PUASA: Peserta dan narasumber usai diskusi foto bersama sebelum melakukan buka puasa bersama.(Foto: istimewa)

Dosen FBE UAJY, Y Sri Susilo menilai kompetisi industri perhotelan di DIY sudah sangat ketat, baik untuk hotel berbintang maupun nonbintang. Kondisi ini memerlukan regulasi yang membatasi izin pembangunan hotel baru di wilayah yang tingkat kejenuhannya tinggi.

”Hal itu agar pengelola atau pemilik hotel masih mendapat insentif keuntungan dari investasi yang dilakukan,” jelas Susilo yang juga Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.

Kreatif Tawarkan Produk

Narasumber lain menyampaikan pendapatnya dan ada beberapa poin penting yang muncul. Pertama, kompetisi industri perhotelan di DIY untuk hotel bintang 3 ke bawah sudah sangat ketat. Investor baru harus diarahkan untuk investasi pada hotel bintang 4 dan bintang 5 dengan tetap mempertimbangkan lokasi apakah ketersediaan hotel sudah mencukupi atau belum.

Kedua, kompetisi hotel di DIY tidak hanya dengan sesama hotel berbintang namun juga dengan homestay, quest house, pondok penginapan dan sejenisnya yang sebagian besar belum memiliki izin beroperasi seperti hotel berbintang pada umumnya. Hotel berbintang dengan hotel non-bintang serta homestay dan quest house bukan komplementer lagi namun sudah merupakan substitusi.

Ketiga, pengelola hotel harus konsisten menawarkan produknya secara paket/bundling. Paket tersebut dapat ditawarkan bekerjasama dengan pihak lain, misalnya event organizer (EO) yang menyelenggarakan event olahraga, MICE (Meeting, Incentive, Conference dan Exhibition), dan event lainnya.

Keempat, ke depan dengan tersambungnya jalur jalan tol Jogja – Solo, Jogja-Bawen dan Jogja-YIA, dimungkinkan wisatawan domestik yang berkunjung ke DIY khususnya yang dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, tidak menginap namun menginap di kota lain di Jawa Tengah atau langsung pulang ke kotanya masing-masing.

Kondisi tersebut juga harus diantisipasi oleh pengelola hotel serta pemangku kepentingan lain misalnya pemda, pemkab/pemkot serta pelaku industri pariwsata lainnya.

Peserta dan Narasumber Lain

Penanggap yang hadir antara lain Eko Yunianto (Kepala OJK DIY), Santosa Rochmad (Dirut Bank BPD DIY), Hermanto (Deputi Kepala BI DIY), Lincolin Arsyad (Guru Besar FEB UGM), Edy Suandy Hamid (Rektor UWM).

Ada pula Gumilang AS (Wakil Ketua 1 ISEI Cabang Yogyakarta), Amirullah SH (Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta), Rudy Badrudin (Kafegama DIY), Bakti Wibawa (BRIN DIY) dan Dian Ari Ani (WKU Bidang Perbankan dan Pasar Modal Kadin DIY).

Sejumlah Pengurus ISEI Cabang Yogyakarta juga hadir dalam diskusi tersebut, antara lain Bambang P Hadi, Hari Kusuma SN, Rokhedi PS, Rini Setyastuti, Relindawati, dan Deni Ismanto. Setelah acara diskusi terbatas, seluruh peserta melaksanakan buka bersama.

No More Posts Available.

No more pages to load.