JOGJA, bisnisjogja.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) DIY mempercepat pengembangan ekonomi desa melalui program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI). Programtersebut bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan dengan membuka akses layanan keuangan formal yang lebih luas dan merata.
Kepala OJK DIY, Eko Yunianto, menegaskan inklusi keuangan menjadi katalisator penting untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, akses yang mudah terhadap tabungan dan kredit dapat membantu pengentasan kemiskinan di wilayah DIY.
Ia menjelaskan hal tersebut dalam acara ”Jogja Jelang Siang” di TVRI Yogyakarta. Ia menekankan EKI tidak hanya memberikan akses modal, tetapi juga mengoptimalkan potensi alam, budaya, dan sosial di desa.
Program EKI mensinergikan peran pemangku kepentingan seperti Pemda, Bank Indonesia, dan berbagai kementerian. Kolaborasi itu menghadirkan layanan konkret seperti Rekening Pelajar (Kejar), KUR, hingga digitalisasi pembayaran melalui QRIS.
Percepat Pembiayaan di Pelosok
”Kami juga mendorong Lembaga Jasa Keuangan (LJK) untuk mengembangkan teknologi guna mempercepat pembiayaan di pelosok. Langkah ini bertujuan mengurangi ketimpangan akses keuangan yang selama ini terjadi antara wilayah kota dan desa,” papar Eko.
Selain itu, OJK memperkuat peran BPR/BPRS dan Bank Pembangunan Daerah (BPD) melalui transformasi digital. Penguatan memungkinkan lembaga keuangan lokal melayani pelaku UMKM secara lebih cepat dan efisien.
Pemerintah menargetkan tingkat inklusi keuangan mencapai 98% pada tahun 2045 mendatang. Guna mencapainya, OJK DIY memasifkan program Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN) guna meningkatkan literasi masyarakat.
Eko berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan program EKI di seluruh wilayah DIY pada masa mendatang. Sinergi antara otoritas, pemerintah daerah, dan pelaku industri menjadi kunci keberhasilan ekosistem.





