JOGJA, bisnisjogja.id – Perkembangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan menjadi penanda mutakhirnya teknologi. Ada sisi positif tapi juga ada negatifnya.
Masyarakat perlu mengetahui sejumlah sisi negatif supaya terhindar dari praktik penipuan yang memanfaatkan AI. Riset terbaru VIDA menyebutkan ada sejumlah penipuan berbasis AI yang membuat pelaku bisnis merasa khawatir.
Managing Director dan Group Chief Revenue Officer VIDA, Adrian Anwar mengungkapkan sebanyak 100 persen pelaku bisnis merasa khawatir pada meningkatnya ancaman penipuan berbasis kecerdasan buatan.
Hasil penelitiannya juga menyebutkan sebanyak 46 persen dari pelaku usaha belum memahami cara kerja teknologi kecerdasan buatan. VIDA sebagai penyedia solusi pencegahan penipuan identitas digital perlu melakukan penelitian guna mengedukasi masyarakat khususnya pelaku usaha.
Empat Penipuan
”Kami melakukan penelitian bertajuk Where’s The Fraud: Protecting Indonesian Businesses from AI-Generated Digital Fraud, untuk melihat apa dan bagaimana pelaku usaha melihat penipuan berbasis AI,” tutur Adrian, Sabtu (7/9/2024).
Laporan risetnya menyoroti empat jenis penipuan digital yang paling banyak menyerang bisnis di Indonesia. Penipuan tersebut yakni penipuan berbasis teknologi AI (deepfakes), rekayasa sosial (social engineering), pengambilalihan akun (account takeovers), serta pemalsuan dokumen dan tanda tangan.
Dengan empat industri yang paling terpengaruh secara signifikan, perbankan dan fintech, multifinance dan pembiayaan konsumen, asuransi, dan kesehatan.
”Pelaku bisnis perlu segera mengambil langkah perlindungan agar terhindar dari penipuan digital. Kami berkomitmen menyediakan solusi canggih yang memberdayakan bisnis untuk mendeteksi, mencegah,dan merespons penipuan dengan lebih efektif,” tandasnya.
Solusi Menyeluruh
Founder dan Group CEO VIDA, Niki Luhur menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dalam menghadapi penipuan digital. Karena itu, VIDA meluncurkan Identity Stack, sebuah solusi komprehensif untuk mengatasi penipuan, terutama dalam transaksi digital.
Berikut empat jenis penipuan yang sering terjadi. Pertama, penipuan identitas digital (identity fraud).
Penipuan digital semakin canggih memanfaatkan teknologi AI dan deepfake.
Kedua, rekayasa sosial (social engineering). Serangan phishing telah menjadi ancaman yang semakin umum bahkan juga pada kalangan pelaku bisnis. Smishing, ancaman serupa melalui SMS, telah berdampak pada pelaku bisnis. Juga vishing, penipuan melalui suara, telah menarget pelaku bisnis.
Penipuan ketiga yakni pengambilalihan akun (account takeovers). Pelaku memanfaatkan kata sandi yang lemah dan kurangnya otentikasi multi-faktor melalui serangan credential stuffing dan phishing. Sebanyak 97 persen pelaku bisnis melaporkan upaya peretasan akun.
Keempat, pemalsuan dokumen dan tandatangan (documentand signature forgery). Jenis penipuan ini tidak hanya merusak kesahihan dokumen pelanggaran data, juga dapat merusak reputasi perusahaan, mengurangi kepercayaan serta menjadi penyebab kerugian finansial terbesar.
”Identity Stack dapat memperkuat pertahanan pelaku usaha dari ancaman digital yang terus berkembang,” tegas Niki.







