JOGJA, bisnisjogja.id – Akses perempuan terhadap modal usaha masih menjadi persoalan di wilayah pedesaan. Hambatan seperti bias gender, keterbatasan agunan, rendahnya literasi keuangan, hingga norma sosial-budaya sering membuat perempuan kesulitan mengembangkan usaha.
Melalui program bertajuk ”Waqf Savings as a Catalyst for Women’s Capital Access”, tim Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dengan Ketua Dosen Prodi Ekonomi, Dr Yuli Utami, melakukan pengabdian masyarakat.
Mereka melakukan pendampingan memanfaatkan potensi wakaf tunai untuk solusi bagi perempuan pelaku usaha mikro di Desa Trukan, Imogiri, Kabupaten Bantul.
”Pada tahap awal ini, kami melakukan pelatihan pada 25 Juni 2025 dengan peserta 30 ibu rumah tangga di Desa Trukan Imogiri,” ungkap Yuli.
Pendampingan merupakan lanjutan dari pengabdian masyarakat yang telah dirintis sejak tahun 2023. Pengabdian tersebut menggunakan pendekatan fenomenologis dan metode Asset-Based Community Development untuk mengoptimalkan modal sosial berbasis wakaf.
Impian Bersama
Yuli memaparkan, program dikembangkan melalui beberapa tahap. Pada awalnya peserta diajak menemukan kekuatan tersembunyi melalui kisah-kisah inspiratif dari komunitas perempuan yang aktif dalam arisan dan simpan pinjam.
Selanjutnya mereka diajak menyampaikan impian bersama untuk mendapatkan akses modal yang adil dan berkelanjutan. Komunitas mendapat pembekalan penguatan pengetahuan dan sistem melalui pelatihan akad syariah.

Tahap selanjutnya mereka mulai menerapkan pengetahuan tersebut dalam praktik keuangan mikro syariah. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memberikan dukungan modal awal sebesar Rp 4 juta dalam bentuk wakaf tunai untuk memperkuat lembaga keuangan mikro yang baru didirikan.
Kini lembaga tersebut telah berkembang dari nol menjadi lebih dari 100 anggota aktif dengan kegiatan menabung dan pembiayaan rutin. Kepemimpinan lokal yang kuat mendorong pertumbuhan dana, keuntungan, serta dukungan bagi pelaku usaha mikro perempuan di Trukan.
Berkelanjutan
”Hasil kegiatan ini telah berdampak meskipun pada skala lokal. Para anggota kelompok melakukan tabungan hasil penjualan sampah rumah tangga digunakan sebagai wakaf tunai bergulir berkelanjutan,” ujar tambah Yuli.
Ia menambahkan, dana ”arisan” berbasis bunga dialihkan ke lembaga keuangan mikro syariah. Masjid berperan sebagai pusat literasi keuangan dan pengelolaan zakat, infaq, sedekah, dan wakaf.
Dana ZIS yang diperuntukkan bagi amil digunakan untuk pembiayaan Qardhul Hasan, sementara keuntungan dari usaha komunitas disalurkan kembali untuk menambah wakaf tunai.
Program ini tidak hanya memberikan dampak ekonomi, tetapi juga membangun kemandirian dan kepercayaan diri komunitas perempuan di desa.
”Desa Trukan kini menjadi contoh nyata bahwa filantropi dan inovasi keuangan syariah dapat menjadi motor penggerak pembangunan ekonomi inklusif dan berkelanjutan di akar rumput,” tandas Yuli.





