Pengabdian Berbasis Nurani, Layanan Pendampingan Lansia

oleh -327 Dilihat
LANSIA: Ilustrasi kegiatan pengabdian masyarakat Program Studi Magister Manajemen konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia FEB UAD.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Di balik hiruk pikuk keseharian dan derap pembangunan yang semakin cepat, ada sekelompok insan yang memilih menepi sejenak, menaruh waktu dan pikirannya yang kerap luput dari sorotan yakni para lansia.

Belum lama, Program Studi Magister Manajemen konsentrasi Manajemen Sumber Daya Manusia FEB UAD menggelar pengabdian untuk mereka, para lansia.

Program pengabdian masyarakat bertajuk ”Pendampingan Lansia Berbasis SDM Profesional: Mewujudkan Layanan Holistik” dengan pimpinan Dr Agus Siswanto.

Kegiatan tidak sekadar rutinitas akademik akan tetapi menjelma menjadi gerakan yang hidup menyentuh hati, memberi makna, dan menanamkan harapan baru, terutama bagi para lansia yang selama ini lebih banyak menerima ketimbang diberi ruang untuk terlibat.

Berbeda dari kegiatan sosial biasa, program ini menghadirkan pendekatan yang terstruktur dan profesional. Tim terdiri atas para dosen dan mahasiswa Program Studi S2 Magister Manajemen serta kader Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah, yang dikenal aktif dalam gerakan sosial berbasis keagamaan. Mereka tidak datang sekadar memberi, tetapi belajar bersama masyarakat.

”Kami ingin membuktikan bahwa pengabdian bukanlah ajang pamer pengetahuan, tetapi proses saling tumbuh,” ungkap Agus.

Komitmen

Menurut Agus, kerja sama dengan Ranting Aisyiyah Singosaren bukanlah tanpa alasan. Wilayah tersebut selama beberapa tahun terakhir menunjukkan komitmen kuat pelayanan sosial lansia berbasis komunitas.

Namun, keterbatasan pengetahuan kader dalam hal pendekatan holistik, fisik, psikologis, sosial, maupun spiritual, mendorong tim pengabdi untuk turun tangan. Bukan menggantikan, melainkan memperkuat.

Disambut dengan senyum dan sapaan akrab oleh para mahasiswa yang bertugas menjadi pendamping personal. Ada yang memandu senam, ada yang mendampingi pemeriksaan kesehatan, sebagian lain mencatat riwayat keseharian lansia untuk keperluan tindak lanjut. Salah satu lansia, Mbah Siti (74), mengaku bahagia bisa mengikuti kegiatan ini.

”Biasanya cuma duduk di rumah. Tapi hari ini saya merasa seperti tamu kehormatan. Dipijiti, dicek tensi, diajak senam, dan bisa cerita-cerita,” tuturnya sambil tersenyum.

Kajian spiritual interaktif, yang membahas tentang makna hidup di usia senja, pentingnya sabar dan ikhlas, serta semangat untuk terus bermanfaat. Lebih dari sekadar kegiatan teknis, atmosfer kegiatan sangat humanis.

Pelibatan

Agus secara khusus menyusun metode pelibatan mahasiswa berbasis experiential learning, agar pengabdian memberi makna ganda yakni memberi manfaat kepada masyarakat sekaligus mengembangkan kapasitas profesional mahasiswa.

Salah satu keberhasilan program, tingginya partisipasi dan kesiapan mitra. Ranting Aisyiyah Singosaren yang dipimpin Sri Hartatik menyambut baik program dengan kesiapan luar biasa.

”Kami sudah lama menginginkan pelatihan dan pendampingan seperti ini. Tapi belum ada yang datang membawa ilmu sekaligus merangkul dengan hati. Biasanya hanya seremonial. Tapi hari ini berbeda,” ujar Sri.

Setelah program berjalan, para kader Aisyiyah berinisiatif membentuk Tim Sahabat Lansia Berdaya, yang bertugas melanjutkan kegiatan-kegiatan sederhana seperti kunjungan rutin, pendampingan spiritual, dan diskusi kelompok kecil untuk lansia.

Program pengabdian membuka mata banyak pihak bahwa lansia bukan sekadar kelompok rentan, melainkan kelompok bermartabat yang memiliki hak untuk didampingi secara profesional, penuh cinta, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.