Pentingnya Penguatan Logistik Wilayah Bencana di Sumatra

oleh -535 Dilihat
SIAP KIRIM: Bantuan dari Pertamina International Shipping (PIS) siap dikirim ke lokasi bencana banjir bandang.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Bencana banjir bandang dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menjadi pukulan berat bagi Indonesia sepanjang 2025. Data BNPB per 14 Desember 2025 mencatat 1.140 orang meninggal dunia, 163 orang hilang, serta lebih dari 399 ribu warga mengungsi.

Kerusakan juga meluas pada infrastruktur, dengan 1.666 titik rusak, termasuk 271 jembatan yang putus dan jalur transportasi darat terhenti.

Kepala Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) UGM, Prof Siti Malkhamah mengungkapkan rusaknya infrastruktur logistik berdampak langsung pada distribusi bantuan. Ia menyampaikan hal itu usai diskusi daring bertajuk ”Membangun Ketahan Logistik Pangan dan Energi Sumatra yang Tangguh Bencana”.

”Dampaknya langsung terasa, distribusi terhambat, pasokan terhenti, hingga memicu kepanikan sosial di tengah masyarakat,” ujar Siti, Senin (29/12/2025).

Ia menekankan perlunya penguatan sistem logistik yang tangguh bencana melalui identifikasi kerentanan, analisis kebijakan, serta rekomendasi konkret.

”Saat ini perlu terobosan dalam desain jaringan transportasi, manajemen cadangan, dan koordinasi respon darurat,” sarannya.

Peran Strategis

Siti memaparkan Sumatra memiliki peran strategis bagi Indonesia. Pada sektor pangan, Sumatera Utara menyumbang produksi padi hingga 2,15 juta ton gabah kering giling dan 1,37 juta ton jagung. Sektor energi, Sumatra juga menjadi lumbung energi nasional dengan kontribusi signifikan energi baru terbarukan.

Guru Besar Manajemen Logistik dan Rantai Pasok UGM, Prof Kuncoro Harto Widodo menambahkan, kerentanan jaringan transportasi dan logistik di Sumatra. Menurutnya, ada tiga isu utama, yakni perbaikan infrastruktur, keterlambatan bantuan logistik, serta desain simpul dan jaringan yang adaptif.

”Kendala di titik simpul dan jaringan transportasi menyebabkan gangguan terhadap ketahanan pangan di kawasan tersebut,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Dr Nani Hendiarti, menyebut stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di wilayah terdampak masih tersedia, yakni sekitar 87.000 ton di Aceh, 31.000 ton di Sumut, dan 7.700 ton di Sumbar.

Mengenai pasokan BBM di lokasi bencana, Direktur Rekayasa dan Infrastruktur Darat, PT Pertamina Patra Niaga, Hari Purnomo, mengatakan distribusi BBM dan LPG tetap diupayakan meski banyak wilayah terisolir.

”Kami melakukan mobilisasi lintas pulau, mendatangkan puluhan mobil tangki dan awak, serta menggunakan kapal Roro hingga transportasi udara untuk wilayah yang terputus akses darat,” tandasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.