JOGJA, bisnisjogja.id – Prospek perbankan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada 2026 tetap positif dengan pertumbuhan yang moderat dan berkelanjutan. Hal ini mengemuka dalam acara Jogja Jelang Siang bertema ”Outlook Perbankan DIY 2026”, hasil kerja sama TVRI Yogyakarta dan ISEI Cabang Yogyakarta.
Bendahara ISEI Cabang Yogyakarta, Dian Ari Ani, menyampaikan proyeksi pertumbuhan ekonomi DIY pada 2026 berada di kisaran 5,2–5,6 persen berdasarkan KPw BI DIY. Sementara itu, target makro Pemerintah Daerah DIY lebih optimistis dengan pertumbuhan 5,1–5,9 persen dan inflasi terkendali di level 2,1–3,5 persen.
”Dari sisi sektor keuangan, rilis Kantor OJK DIY menjadi titik awal yang relevan untuk melihat arah perbankan 2026. Kredit atau pembiayaan perbankan DIY diperkirakan tumbuh di kisaran 8–12 persen, dengan risiko kredit yang membaik dan rasio kredit bermasalah (NPL) dijaga di bawah lima persen,” papar Dian.
Prinsip Hati-hati Perbankan
Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY itu menegaskan, meski prospeknya positif, perbankan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Pertumbuhan kredit hendaknya benar-benar berkualitas dan berkelanjutan, seiring meningkatnya aktivitas pembangunan infrastruktur, pariwisata, dan sektor pendidikan di DIY.
Sepanjang 2025, pertumbuhan kredit perbankan DIY tercatat relatif moderat di kisaran lima persen, namun sehat karena disertai perbaikan kualitas kredit. Kondisi ini menunjukkan perbankan tidak semata mengejar volume, tetapi juga menjaga fundamental dan manajemen risiko.
Memasuki 2026, perbankan DIY diperkirakan tumbuh stabil dengan fokus ekspansi pada sektor-sektor penggerak ekonomi daerah, seperti perdagangan, pariwisata, pendidikan, infrastruktur, serta pembiayaan UMKM yang tetap menjadi prioritas.
Memperkuat Ekonomi Pedesaan
Dian mengatakan, sejalan dengan arah pembangunan daerah, perbankan juga mulai menggeser strategi dari kredit individual ke pembiayaan berbasis ekosistem desa. Desa merupakan satu kesatuan rantai ekonomi, mulai dari produksi, distribusi hingga pasar, bukan sekadar kumpulan debitur mikro.
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya mengurangi kesenjangan ekonomi dan memperkuat ekonomi perdesaan. Perbankan didorong mengaitkan portofolio kredit dengan RPJMD dan program desa, serta menjadikan pembiayaan desa sebagai prioritas strategis, bukan sekadar aktivitas tanggung jawab sosial.
”Dari sisi nasional, Bank Indonesia dan OJK memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan Indonesia pada 2026 berada di kisaran 8–12 persen. Proyeksi tersebut menjadi tolok ukur bagi perbankan daerah, termasuk DIY, selama kondisi ekonomi lokal tetap terjaga dan proyek infrastruktur serta pariwisata berlanjut,” imbuh Dian.
”Perbankan DIY ke depan bukan hanya mesin kredit, tetapi mitra pembangunan ekonomi daerah yang digital, inklusif, dan berkelanjutan, namun tetap berakar pada kearifan lokal,” tandasnya.





