JOGJA, bisnisjogja.id – Pendekatan pembangunan pertanian yang hanya berorientasi pada peningkatan hasil produksi pangan dinilai sudah tidak memadai. Sektor pertanian modern kini dituntut untuk menjawab kebutuhan jangka panjang yang jauh lebih kompleks dan multidimensional.
Guru Besar Bidang Ilmu Pembangunan Pertanian Berkelanjutan UMY, Prof Triyono, menyatakan tantangan abad ke-21 tidak lagi bisa diukur dengan indikator tunggal kenaikan produksi. Diperlukan transformasi sistem pangan yang mencakup jalur sosial-ekonomi, aktor, dan tata kelola baru.
”Transformasi sistem pangan berkelanjutan tidak lagi dipahami sebagai agenda tunggal peningkatan hasil, melainkan perubahan multidimensi yang menuntut jalur sosial-ekonomi, aktor, dan tata kelola baru. Karena itu, pembangunan pertanian berkelanjutan perlu dibaca ulang agar tidak berhenti pada logika produksi semata,” paparnya.
Orasi Ilmiah Guru Besar
Pernyataan tersebut Triyono sampaikan dalam Orasi Ilmiah Pengukuhan Guru Besar di Gedung AR Fachruddin B Lantai 5 UMY, belum lama ini. Orasi bertajuk ”Transformasi Usahatani Organik Menuju Pembangunan Pertanian Berkelanjutan: Integrasi Tata Kelola Agribisnis Kolaboratif, Regeneratif, Berbasis Informasi Digital, dan Berkeadilan bagi Kesejahteraan Petani”.
Menurutnya, meski strategi intensifikasi produksi berhasil menjaga ketersediaan pangan, dampaknya merusak ekosistem. Tekanan terhadap kualitas tanah, air, biodiversitas, dan ketahanan agroekosistem kini berada pada titik yang semakin sulit diabaikan.
Saat ini, arah diskursus pertanian global telah bergeser secara signifikan. Fokus utama tidak lagi sekadar memproduksi pangan dalam jumlah banyak, melainkan bagaimana menekan dampak ekologis dan mendistribusikan manfaat secara adil bagi kesejahteraan petani.
”Strategi pembangunan pertanian harus mampu mensintesiskan produktivitas, ekology, dan kesejahteraan sosial secara lebih utuh. Pertanian berkelanjutan tidak cukup hanya dipahami sebagai upaya meningkatkan produksi sambil mengurangi dampak lingkungan, karena pendekatan seperti itu belum menyentuh persoalan yang lebih mendasar dalam sistem pertanian,” jelas Triyono.
Sistem Pertanian Adaptif
Lebih lanjut, ia menilai aspek teknis seperti konservasi lahan, rotasi tanaman, dan penguatan biodiversitas memang krusial. Namun, implementasi di lapangan tetap membutuhkan sokongan regulasi, pengetahuan, serta penguatan sistem pertanian yang komprehensif.
”Pertanian berkelanjutan harus dipahami sebagai agenda transformasi sistem. Karena itu, bidang pembangunan pertanian tidak dapat lagi diposisikan hanya sebagai kajian tentang sistem produksi, tetapi juga tentang bagaimana membangun sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman dan tantangan keberlanjutan,” tegasnya.
Triyono menekankan pentingnya menghapus dikotomi lama antara produktivitas ekonomi dan konservasi lingkungan. Keduanya harus diintegrasikan agar sistem pertanian nasional memiliki daya tahan tinggi di tengah dinamika perubahan global.
Ukuran keberhasilan pertanian tidak cukup hanya berupa kenaikan produksi. Pertanian harus mampu menjaga keberlanjutan sumber daya, memperkuat daya tahan sistem pangan, serta memberi manfaat sosial dan ekologis secara lebih luas.






