Plastik dan Jelantah Tak Lagi Masalah

oleh -40 Dilihat
LIMBAH: Berbagai karya unik dari limbah plastik dan minyak jelantah.(Foto: istimewa)

JOGJA, bisnisjogja.id – Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (Fapet UGM) menggelar Workshop Pengolahan Sampah CircuLife–SLI 2025 Batch Ketiga. Kali ini mengambil tema ”Community-Driven Waste Management and Circular Economy in Yogyakarta”.

Kegiatan tersebut menjadi langkah konkret mendorong pengelolaan sampah berbasis komunitas sekaligus penerapan ekonomi sirkular di Yogyakarta.

Workshop menghadirkan sejumlah praktisi pengelolaan sampah yang berbagi pengalaman dan praktik baik, mulai dari pengolahan sampah plastik hingga pemanfaatan limbah minyak jelantah. Pada sesi pertama, Ilham Zulfa Pradipta M Eng dari Jogja Life Cycle memaparkan tantangan daur ulang sampah plastik.

Plastik Persoalan Serius

Ia menjelaskan, plastik melalui proses panjang sejak ekstraksi bahan baku hingga sampai ke masyarakat, dengan berbagai jenis. Berdasarkan data 2024, Indonesia tercatat sebagai penyumbang sampah plastik terbesar kelima di dunia.

“Sampah plastik menjadi persoalan serius karena sulit terurai, dapat berubah menjadi mikroplastik, dan mengandung bahan kimia berbahaya,” ujar Ilham.

Ilham menekankan pentingnya pendekatan recycling, downcycling, dan terutama upcycling yang mampu meningkatkan nilai produk hasil olahan plastik.

Jogja Life Cycle telah menerapkannya sejak 2021 melalui Lab RINDU PIAT UGM, dengan melibatkan bank sampah, pengepul, sekolah, dan komunitas. Mereka juga mengembangkan usaha pencacahan plastik sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sirkular.

Mengolah Limbah Jelantah

Narasumber Maria Ratih dari Dadio Home pada kesempatan itu membahas pengolahan limbah minyak jelantah. Menurutnya, minyak jelantah berpotensi mencemari lingkungan dan saluran air.

Dadio Home mengolah jelantah menjadi produk ramah lingkungan seperti sabun, sekaligus membuka peluang ekonomi berbasis rumah tangga.

”Minyak jelantah sebenarnya punya nilai ekonomi jika dikelola secara tepat dan berkelanjutan,” kata Maria.

Koordinator Proyek CircuLife–SLI 2025, Rima Amalia Eka Widya MA berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesadaran dan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.

Kecuali itu, dapat memperkuat peran perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan lingkungan dan ekonomi sirkular berbasis komunitas.

No More Posts Available.

No more pages to load.