Kurangi Sampah, Tim PKM-PM UGM Kenalkan Smart Compost Vessel

oleh -32 Dilihat
SOSIALISASI: Mahasiswa meyampaikan sosialiasi pengelolaan sampah organik.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Tumandur Universitas Gadjah Mada (UGM) menginisiasi inovasi pengelolaan sampah organik rumah tangga di Kampung Jurugsari, Condongcatur, Sleman.

Program itu fokus pada pemanfaatan teknologi Smart Compost Vessel untuk mengolah limbah organik menjadi pupuk organik cair (liquid biofertilizer). Tujuannya, menekan timbunan sampah sekaligus mendongkrak produktivitas ekonomi kebun keluarga.

Inovasi komposter berbentuk ember bertingkat dilengkapi dengan sensor suhu dan pH untuk memantau kualitas pupuk secara presisi. Produk akhir berupa pupuk cair tersebut nantinya langsung digunakan sebagai penyubur tanaman pangan di pekarangan rumah warga.

Ekonomi Sirkular

Kegiatan sosialisasi diikuti 16 anggota PKK Kampung Jurugsari, perangkat wilayah, serta perwakilan Kalurahan Condongcatur. Program tersebut menjadi bukti nyata kontribusi akademisi dalam mendukung ekonomi sirkular dan ketahanan pangan.

Proyek sosial dijalankan oleh Siti Nur Khasanah, Rayhan Arva Pradipa, Nafi’atush Sholikhah, Vina Ayu Lestari, dan Naafianda Ra’uuf Prastya. Lima mahasiswa tersebut bergerak di bawah bimbingan Dr Miftahush Shirothul dari Fakultas Peternakan UGM.

Miftahush mengungkapkan inovasi dirancang sebagai solusi aplikatif bernilai ekonomi bagi masyarakat. Kampus berharap inovasi mereka mampu mendorong kemandirian masyarakat dalam membangun ketahanan pangan keluarga melalui pemanfaatan pekarangan rumah.

Perubahan Paradigma

Ketua Tim PKM-PM Tumandur, Siti Nur Khasanah, menambahkan kunci keberhasilan program terletak pada perubahan paradigma masyarakat terhadap limbah. Mereka ingin masyarakat melihat sampah organik bukan lagi limbah, tetapi sumber daya yang bisa dimanfaatkan.

Respons positif datang dari Ketua PKK Kampung Jurugsari, Ikhwani, yang mengapresiasi pendekatan edukatif para mahasiswa. Ia berharap program terus berlanjut secara konsisten agar volume sampah organik di wilayahnya dapat berkurang drastis secara mandiri.

Dukungan serupa mengalir dari pemerintah setempat, termasuk Ketua RW 57 Purwoko dan Dukuh Joho Retnaningsih, yang menilai program tersebut selaras dengan agenda pengembangan lingkungan hijau. Kalurahan Condongcatur pun berkomitmen mengawal kolaborasi ini agar dampaknya berkelanjutan.

Melalui Program Tumandur, tim UGM berharap model pemberdayaan berbasis teknologi tepat guna ini dapat memicu efisiensi pengeluaran rumah tangga. Ke depan, sistem pengolahan sampah mandiri ditargetkan menjadi percontohan yang dapat direplikasi di wilayah lain.

No More Posts Available.

No more pages to load.