Rupiah Terus Melemah, Stabilitas Harga Pangan Terancam

oleh -161 Dilihat
TURUN: Ilustrasi turunnya nilai tukar rupiah.(Foto: Freepik)

JOGJA, bisnisjogja.com – Lonjakan nilai tukar dolar AS yang sempat menyentuh level Rp 17.000 dan kini selalu mendekati angka itu mulai menebar ancaman serius bagi stabilitas harga pangan domestik. Ketergantungan Indonesia pada impor komoditas strategis dan input produksi menjadikan sistem pangan nasional rentan terhadap transmisi inflasi akibat gejolak kurs.

Dosen Sosial Ekonomi Pertanian UGM, Dr Hani Perwitasari menegaskan fluktuasi kurs linear dengan kenaikan biaya pengadaan pangan di tingkat konsumen.

”Fluktuasi nilai tukar ini akan berpengaruh terhadap stabilitas harga pangan dengan besaran bervariasi, antara 2 hingga 8 persen, tergantung pada jenis komoditasnya,” ujar Hani.

Komoditas Rentan dan Ketergantungan Impor

Menurut Hani, komoditas yang paling terpukul adalah produk yang sulit disubstitusi dan memiliki rantai pasok global yang kuat. Keterbatasan stok di dalam negeri kian memperparah potensi kenaikan harga saat rupiah melemah. Ia menyoroti tiga komoditas utama yang paling sensitif terhadap guncangan mata uang yakni daging, telur dan susu.

”Komoditas yang paling rentan seperti daging, telur, dan susu memang sulit untuk disubstitusi. Maka, produk-produk tersebut akan lebih rentan terhadap dampak pelemahan rupiah,” jelasnya.

Hani menambahkan struktur pangan nasional yang masih mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan domestik menjadi titik lemah utama. Semakin tinggi porsi impornya, maka sistem pangan akan sangat rentan terhadap gejolak kurs.

Efek Domino pada Biaya Produksi

Tekanan tidak hanya terjadi pada barang jadi, tetapi juga merembet ke sektor hulu. Pelemahan rupiah mengerek biaya input produksi pertanian dan peternakan, mengingat banyak komponen yang termasuk kategori barang tradable.

”Nilai tukar akan memengaruhi biaya produksi. Ketika barang-barang produksi merupakan barang tradable, harganya otomatis naik dan meningkatkan total biaya yang harus ditanggung pelaku usaha,” ungkap Hani.

Guna memitigasi risiko dalam jangka pendek, ia mendesak pemerintah untuk memperkuat akurasi data produksi dan kebutuhan nasional. Data yang presisi menjadi kunci agar kebijakan intervensi, termasuk keputusan impor, tidak salah sasaran.

Penguatan Produksi Domestik

Menurutnya jika pasokan kurang, perlu impor. Jika cukup, tidak perlu. Kebijakan harus diambil dengan tepat untuk menjaga keseimbangan harga di tingkat produsen maupun konsumen.

Sebagai strategi jangka panjang, penguatan produksi domestik menjadi harga mati. Hani menekankan pentingnya akses pembiayaan yang mempermudah permodalan bagi petani. Lalu, subsidi input yakni kepastian ketersediaan pupuk dan benih. Setelah itu, asuransi pertanian, perlindungan petani dari risiko gagal panen.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mulai beralih ke produk lokal guna memperkuat kedaulatan pangan. Ditegaskannya, peran konsumen sangat penting. Memilih produk dalam negeri akan mendorong penguatan produksi pangan nasional secara berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.