- Gejolak pergerakan pasar modal yang saat ini terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen jangka pendek, bukan perubahan fundamental.
- Tekanan terutama datang dari saham-saham perbankan yang memiliki bobot besar dalam IHSG, sehingga setiap gejolak di sektor ini segera memberi dampak signifikan.
JOGJA, bisnisjogja.id – ”Pasar menilai stabilitas kebijakan fiskal dan moneter sangat erat kaitannya dengan perbankan. Ketika muncul ketidakpastian mengenai arah kebijakan pasca pergantian menkeu, saham-saham bank otomatis terekspos karena dianggap sensitif terhadap risiko makroekonomi,” papar Ekonom UGM Dr Rijadh Djatu Winardi.
Ia menjelaskan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat melemah lebih dari satu persen pada penutupan bursa Senin (8/9/2025) pasca pergantian menteri keuangan. Ini menunjukkan dinamika kebijakan di tingkat pemerintah dapat langsung memengaruhi pergerakan pasar modal.
Tekanan terutama datang dari saham-saham perbankan yang memiliki bobot besar dalam IHSG, sehingga setiap gejolak di sektor ini segera memberi dampak signifikan.
”Gejolak pergerakan pasar modal yang saat ini terjadi lebih banyak dipicu oleh sentimen jangka pendek, bukan perubahan fundamental,” ungkap Rijadh.
Sektor perbankan menjadi yang paling terpukul akibat pelemahan pasar saham. Banyak bank menjadi kapitalisasi pasar terbesar di IHSG, sehingga setiap gejolak langsung memberi efek dominan ke indeks.
Erat Terkait
Menurut Rijadh, kondisi tersebut memperlihatkan eratnya kaitan antara stabilitas kebijakan fiskal dengan kinerja sektor perbankan. Investor cenderung menilai bank sebagai barometer utama perekonomian sehingga setiap ketidakpastian langsung tercermin pada pergerakan saham bank.
Hal itu juga menunjukkan bahwa perbankan kerap menjadi leading indicator terhadap kondisi makroekonomi nasional.
Ia menilai penurunan yang terjadi lebih mencerminkan shock jangka pendek ketimbang ancaman jangka menengah. Ia melihat pasar masih dalam tahap mencerna situasi dan belum menunjukkan tanda pelemahan mendalam terkait fundamental ekonomi.
Fenomena ini sejalan dengan pola umum bahwa pasar biasanya bereaksi lebih besar pada isu politik sebelum kemudian menyesuaikan diri. Investor domestik bahkan cenderung memanfaatkan momen pelemahan untuk melakukan akumulasi pada saham-saham unggulan.
Dinamika itu menggambarkan pentingnya membedakan antara reaksi sesaat dengan kondisi fundamental yang lebih stabil.
”Asal pasar melihat bahwa keputusan pergantian tetap favorable buat market, saya kira dampaknya tidak akan berkepanjangan,” tandasnya.







