Simfoni Risiko Stagflasi

oleh -16 Dilihat
Ekonom Swasaba Research Initiative (SRI) Yogyakarta, Hery Nugroho.(Foto: istimewa)

 

  • Lonjakan harga minyak mentah adalah pemantik klasik, bekerja seperti api yang menjalar perlahan, membakar biaya produksi, menekan margin usaha, dan pada akhirnya merambat ke harga barang konsumsi.
  • Stagflasi, bukan hanya soal angka-angka makroekonomi tetapi ujian atas kemampuan membaca zaman—tentang seberapa akurat kebijakan menangkap sifat krisis yang sedang berlangsung.

 

DI TENGAH dentum konflik Timur Tengah yang kembali mengguncang jalur energi global, dunia seperti mendengar ulang nada lama yang pernah menghantui dekade 1970-an: stagflasi. Itu bukan sekadar istilah ekonomi, tetapi adalah suasana, kombinasi ganjil antara harga yang terus menanjak dan pertumbuhan ekonomi yang kehilangan daya.

Peringatan itu kembali mengemuka ketika Chris Williamson dari S&P Global membaca sinyal dari data PMI global. Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar seperti alarm yang terlalu dini dibunyikan. Namun sejarah mengajarkan bahwa krisis besar sering kali diawali oleh tanda-tanda yang tampak samar, yang nyaris diabaikan.

Lonjakan harga minyak mentah adalah pemantik klasik. Itu bekerja seperti api yang menjalar perlahan, membakar biaya produksi, menekan margin usaha, dan pada akhirnya merambat ke harga barang konsumsi. Di sisi lain, daya beli masyarakat tergerus, investasi tertahan, dan mesin pertumbuhan mulai tersendat. Inflasi naik, pertumbuhan turun—paradoks yang sulit ditaklukkan.

Kerentanan Kawasan Asia

Di kawasan Asia, kerentanan itu terasa lebih nyata. Ketergantungan pada impor energi membuat setiap gejolak harga global langsung menjalar ke dalam negeri. Di sinilah otoritas moneter mengambil posisi yang tampak sunyi: menahan suku bunga, membaca arah angin, dan menunggu kepastian yang tak pernah benar-benar pasti.

Sikap seperti itu kerap disalahpahami sebagai keragu-raguan. Padahal, ini adalah bentuk kehati-hatian yang lahir dari pengalaman panjang. Kebijakan moneter bekerja dalam jeda waktu—apa yang diputuskan hari ini baru terasa dampaknya beberapa kuartal ke depan. Terlalu cepat melonggarkan bisa membuat inflasi membandel. Jika terlalu agresif mengetatkan bisa mematikan pertumbuhan. Dalam ruang sempit itulah bank sentral berjalan, seperti pemain akrobat yang menari di atas seutas tali.

Sementara itu, di sisi lain panggung, otoritas fiskal Indonesia tampil dengan nada yang berbeda. Lebih percaya diri, lebih ekspansif. Instrumen yang dimiliki pemerintah memang lebih kasat mata: subsidi energi untuk meredam gejolak harga; bantuan sosial untuk menjaga daya beli; serta belanja negara untuk memastikan roda ekonomi tetap berputar.

Fiskal Tameng Pertama

Pendekatan ini bukan tanpa dasar. Dalam situasi global yang sarat ketidakpastian, fiskal sering menjadi tameng pertama—penyangga yang menjaga agar tekanan eksternal tidak langsung menghantam masyarakat. Namun, di balik keyakinan itu, tersembunyi keraguan yang lebih mendasar: apakah keberanian ini sejalan dengan arah risiko yang sedang berkembang?

Di sinilah ketegangan itu mulai terasa. Jika tekanan inflasi terutama berasal dari sisi penawaran—dari mahalnya energi dan terganggunya rantai pasok—maka dorongan fiskal yang terlalu kuat justru akan memperbesar bara yang sudah menyala. Permintaan meningkat di saat pasokan terbatas. Harga pun terdorong lebih tinggi. Dalam kondisi seperti ini, kebijakan fiskal dan moneter tidak lagi saling menguatkan, melainkan saling menegasikan.

Namun, jika ancaman utama justru datang dari perlambatan ekonomi global, maka kehati-hatian moneter bisa menjadi terlalu kaku. Dalam skenario ini, stimulus fiskal yang agresif justru menjadi penyelamat—menjaga konsumsi, mempertahankan investasi, dan menahan ekonomi agar tidak terperosok lebih dalam.

Pertanyaannya kemudian bergeser: bukan lagi siapa yang benar, melainkan siapa yang membaca arah dengan lebih jernih. Masalahnya, ekonomi global hari ini tidak menawarkan kejelasan. Ia bergerak dalam spektrum abu-abu, di mana inflasi dan perlambatan berjalan beriringan, saling mempengaruhi, dan sulit untuk dipisahkan. Dalam lanskap seperti ini, risiko terbesar bukanlah kesalahan tunggal, melainkan ketidaksinkronan agregat.

Harmoni yang Terjaga

Bayangkan sebuah orkestra tanpa konduktor. Instrumen dimainkan dengan niat baik, tetapi tanpa harmoni. Moneter menahan laju, fiskal mendorong percepatan. Hasilnya bukan stabilitas, melainkan disonansi—suara yang terdengar bising, tidak terarah, dan pada akhirnya melelahkan.

Indonesia tidak kekurangan instrumen. Ia memiliki ruang fiskal yang relatif terjaga dan kredibilitas moneter yang cukup kuat. Namun, kekuatan itu hanya akan bermakna jika keduanya bergerak dalam satu irama.

Stagflasi, bukan hanya soal angka-angka makroekonomi. Itu adalah ujian atas kemampuan membaca zaman—tentang seberapa akurat kebijakan menangkap sifat krisis yang sedang berlangsung.

Apakah ia lebih menyerupai api inflasi yang harus dipadamkan, atau bayang-bayang resesi yang harus diterangi?

Di tengah ketidakpastian itu, satu hal menjadi jelas: yang dibutuhkan bukan sekadar keberanian atau kehati-hatian, melainkan keselarasan. Sebab dalam ekonomi, seperti dalam musik, nada yang paling indah lahir bukan dari satu instrumen yang dominan, melainkan dari harmoni yang terjaga.

  • Penulis, Hery Nugroho, Ekonom di Swasaba Research Initiative (SRI) Yogyakarta.

No More Posts Available.

No more pages to load.