JOGJA, bisnisjogja.id – Fakultas Teknobiologi (FTB) Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) kembali menghadirkan inovasi di bidang riset keanekaragaman hayati melalui Mobile Laboratory Bioprospecting, sebuah laboratorium portabel yang memungkinkan pengujian awal senyawa bioaktif langsung di lapangan.
Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi antara FTB UAJY dan Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Mobile Laboratory Bioprospecting dikenalkan bertepatan dengan kegiatan monitoring dan evaluasi pendanaan FOLU Net Sink terkait bioprospeksi di Balai Taman Nasional Gunung Merapi.
Kehadiran inovasi tersebut menjadi bukti nyata komitmen FTB UAJY dalam mendukung pengembangan bioprospeksi di Indonesia, khususnya di kawasan konservasi sebagai sumber utama biodiversitas.
Kebutuhan Lapangan
Inovasi digagas apt Ines Septi Arsiningtyas PhD, dosen dan peneliti Fakultas Teknobiologi UAJY, berangkat dari pengalaman kolaborasi riset bersama Balai TNGM. Menurutnya, efisiensi pengujian menjadi tantangan utama dalam kegiatan bioprospeksi di kawasan hutan.
”Pengujian awal biasanya harus menunggu sampel dibawa kembali ke laboratorium. Padahal, kondisi lapangan sering menuntut keputusan cepat. Dari situlah muncul gagasan menghadirkan laboratorium yang bisa dibawa langsung ke lokasi pengambilan sampel,” papar Ines.
Ia menambahkan, Indonesia sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia memiliki potensi luar biasa dalam penemuan senyawa bioaktif dari flora yang dapat dikembangkan menjadi obat, kosmetik, hingga produk kesehatan.
Laboratorium Mini
Mobile Laboratory Bioprospecting dirancang dalam bentuk kit praktis, ringkas, dan aman untuk digunakan di lapangan.
Kit tersebut dilengkapi dengan reagen fitokimia utama serta peralatan mini seperti tabung reaksi, pipet tetes, botol ekstraksi, pemanas portabel, dan alat pelindung diri (APD) lengkap. Selain itu, tersedia manual SOP sederhana agar mudah dioperasikan oleh staf lapangan.
Melalui mobile lab, pengujian cepat terhadap berbagai senyawa metabolit sekunder, seperti alkaloid, polifenol, saponin, tannin, steroid, triterpenoid, coumarin, serta gula pereduksi, dapat dilakukan langsung di lokasi pengambilan sampel tanpa harus kembali ke laboratorium utama.
”Dengan sistem ini, hanya sampel yang benar-benar menunjukkan potensi yang akan dibawa untuk analisis lanjutan. Proses menjadi lebih efisien dan risiko eksploitasi berlebihan dapat ditekan,” ungkap Ines.
Efisiensi dan Konservasi
Pendekatannya tidak hanya mempercepat proses riset, tetapi juga mendukung prinsip konservasi berkelanjutan. Pengambilan sampel yang lebih selektif dinilai mampu mengurangi tekanan terhadap ekosistem kawasan konservasi.
Kegiatan soft launching juga menjadi ajang demonstrasi penggunaan mobile lab sekaligus forum diskusi untuk mengumpulkan masukan dari pengguna lapangan. Masukan dapat menyempurnakan pengembangan kit agar semakin sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Sebagai fakultas yang berfokus pada pengembangan ilmu hayati dan bioteknologi, FTB UAJY terus mendorong inovasi yang relevan dengan tantangan riset di Indonesia. Mobile Laboratory Bioprospecting dipandang sebagai langkah strategis untuk menjawab keterbatasan akses dan fasilitas riset di kawasan konservasi.
”Kami berharap inovasi ini dapat memperkuat kolaborasi antara akademisi, pengelola kawasan konservasi, dan industri berbasis bahan alam. Dengan demikian, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pengembangan produk alami yang kompetitif di tingkat global,” tandasnya.





