KULON PROGO, bisnisjogja.id – Komisi II DPRD Kabupaten Kulon Progo menggelar workshop strategis bertajuk “Strategi Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Kulon Progo” di Gedung DPRD setempat pada Kamis (21/05/2026). Langkah ini diambil guna merumuskan rekomendasi kebijakan yang tepat dalam mendongkrak sektor perekonomian daerah.
Workshop dipimpin langsung Ketua Komisi II DPRD Kulon Progo, Raden Sunarwan SE, selaku moderator, dengan menghadirkan narasumber pakar, Dr Y Sri Susilo yang merupakan Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY sekaligus Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta.
Agenda krusial ini juga dihadiri oleh enam anggota Komisi II lainnya, yaitu Puspita Apriani, Rian Nur Fajar, Titik Wijayanti, Nasib Wardoyo, Upiya Al Hasan, dan H. Yuliyantoro.
Sebagai komisi yang membidangi sektor perekonomian dan keuangan termasuk perindustrian, perdagangan, koperasi, UMKM, hingga pariwisata, Komisi II berkomitmen penuh mendorong pelaku usaha lokal untuk naik kelas.
Ketua Komisi II, Raden Sunarwan, menegaskan bahwa strategi pengembangan saat ini difokuskan pada optimalisasi potensi lokal, digitalisasi, serta perluasan akses pasar melalui sinergi multisektor.
Potensi Utama UMKM
Dalam paparannya, Sri Susilo memetakan bahwa potensi utama UMKM Kulon Progo bertumpu pada produk kuliner, olahan pangan lokal, kerajinan (handicraft), dan fesyen. Komoditas unggulan yang menjadi motor penggerak antara lain gula semut, kopi dan cokelat Menoreh, makanan tradisional seperti geblek, tempe benguk, growol, dawet sambal, serta produk kerajinan serat enceng gondok, pandan, batik, dan lurik.
Kabupaten Kulon Progo sebenarnya telah memiliki ekosistem pendukung UMKM yang kuat, salah satunya melalui gerakan daerah “Bela Beli Kulon Progo” yang mewajibkan konsumsi produk lokal.

Selain itu, terdapat integrasi platform digital SiBakul Jogja, bimbingan teknis dari PLUT KUMKM, inovasi pembiayaan Dana Abadi Modal Kerja, hingga kemitraan e-commerce melalui Mbizmarket untuk pengadaan barang pemerintah.
Meski memiliki pondasi ekosistem yang baik, workshop tersebut mengidentifikasi lima tantangan utama yang masih menghadang UMKM Kulon Progo. Tantangan meliputi krisis regenerasi akibat dominasi pelaku usaha usia lanjut, keterbatasan literasi digital bagi kelompok usia di atas 50 tahun, kendala perizinan dan kemasan, keterbatasan akses permodalan, serta perlunya evaluasi tata kelola pemasaran ritel lokal.
Lima Pendekatan Strategis
Menjawab tantangan tersebut, forum merumuskan lima pendekatan strategis, yang pertama fasilitasi legalitas secara gencar untuk pengurusan NIB, sertifikat Halal, dan Izin Edar. Langkah kedua penguatan integrasi pasar melalui kombinasi pemasaran daring di platform SiBakul Jogja dan pemasaran luring di jaringan ritel modern lokal, Toko Milik Rakyat (ToMiRa).
Pendekatan strategis berikutnya adalah pemanfaatan peluang emas Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) sebagai etalase fisik untuk memasarkan produk khas langsung kepada wisatawan. Selain itu, pemerintah daerah berkomitmen meningkatkan kualitas SDM lewat pelatihan manajemen dan inovasi kemasan, serta memfasilitasi kemudahan akses ke permodalan produktif.
Dari hasil diskusi mendalam, disepakati bahwa pengembangan UMKM Kulon Progo harus didorong secara seimbang dari dua sisi, yakni permintaan (demand) dan penawaran (supply). Dari sisi permintaan, produk lokal harus didorong untuk “go lokal” menguasai pasar DIY-Jawa Tengah, lalu bertahap “go nasional”. Sementara dari sisi penawaran, kualitas produk wajib ditingkatkan agar memenuhi standar pasar modern.
Sebagai penutup, Sri Susilo menekankan pentingnya kolaborasi dengan sektor akademis untuk mengawal keberlanjutan program ini.
”Potensi perguruan tinggi harus dimanfaatkan secara optimal melalui pendampingan intensif untuk membantu dan mendorong kemajuan UMKM di Kabupaten Kulon Progo agar benar-benar bisa naik kelas,” tandasnya.







