JOGJA, bisnisjogja.id – Bank Indonesia melakukan survei bulanan sejak Oktober 1999. Ribuan orang terlibat menjadi responden (stratified random sampling) di 18 kota. Indeks per kota dihitung dengan metode balance score (net balance + 100) yang menunjukkan bahwa ketika indeks di atas 100 berarti optimistis dan di bawah 100 berarti pesimistis.
Survei bulan Juli 2024 memperlihatkan dan mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Juli 2024 sebesar 123,4 sedikit lebih tinggi dibandingkan 123,3 pada bulan sebelumnya.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Erwin Haryono mengungkapkan meningkatnya keyakinan konsumen didorong Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang menguat dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang tetap optimistis.
”Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) tercatat meningkat pada seluruh komponen pembentuknya. Sementara itu, IEK tetap kuat terutama ditopang Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja yang stabil dan Indeks Ekspektasi Penghasilan yang tetap tinggi,” papar Erwin dalam keterangan persanya, Kamis (8/8/2024).
Kondisi Ekonomi
Ia menjelaskan kuatnya keyakinan konsumen pada Juli 2024 didorong keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini yang meningkat dan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi ke depan yang tetap optimistis. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) Juli 2024 tercatat masing-masing sebesar 113,5 dan 133,3.
”Pada Juli 2024, keyakinan konsumen terpantau tetap optimistis pada seluruh kategori pengeluaran. Peningkatan IKK tertinggi tercatat pada responden dengan pengeluaran Rp 2,1 – 3 juta. Berdasarkan usia, IKK tertinggi terjadi pada kelompok usia 20 – 30 tahun.
Secara spasial, IKK meningkat di sebagian besar kota yang disurvei, terbesar di Kota Banjarmasin (14,8 poin), diikuti Mataram (7,4 poin) dan Padang (7,2 poin). Sementara itu, sebagian lainnya mencatat penurunan IKK, terutama di Kota Bandar Lampung (16,3 poin), diikuti Pontianak (10,3 poin) dan Banten (6,8 poin).
Persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini juga meningkat meningkat, tecermin dari IKE Juli 2024 yang menjadi sebesar 113,5. Peningkatan IKE Juli 2024 didorong peningkatan seluruh komponennya, yaitu Indeks Penghasilan Saat Ini, Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja, dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (Durable Goods), masing-masing menjadi sebesar 121,4, 107,7, dan 111,5.
Erwin menambahkan, secara spasial sebagian besar kota mencatat peningkatan IKE, terbesar di Kota Banjarmasin (11,7 poin), Padang (9,7 poin), dan Manado (6,2 poin). Sebagian lainnya mencatat penurunan IKE, terutama di Kota Palembang (12,0 poin), Banten (8,3 poin), dan Bandar Lampung (6,7 poin).
Lebih Tinggi
”Responden juga optimistis terhadap penghasilan saat ini terutama didorong oleh peningkatan pada kelompok pengeluaran Rp 2,1 – 3 juta. Berdasarkan usia, responden dengan usia 20 – 30 tahun mencatatkan optimisme yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya,” jelas Erwin.
Persepsi responden terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan terindikasi meningkat. Peningkatan indeks tercatat pada responden dengan tingkat pendidikan SLTA, Akademi, dan Sarjana. Berdasarkan kelompok usia, indeks tertinggi terjadi pada kelompok usia 20 – 30 tahun.
Keyakinan konsumen dalam melakukan pembelian durable goods terpantau meningkat pada responden dengan tingkat pengeluaran Rp 1 – 3 juta. Berdasarkan kelompok usia, indeks tertinggi terjadi pada kelompok usia 20 – 30 tahun.
Ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan terpantau tetap kuat. Hal ini tecermin dari IEK Juli 2024 yang berada dalam zona optimistis sebesar 133,3. Tetap kuatnya IEK ditopang ekspektasi terhadap penghasilan sebesar 137,7.
Selain itu, ekspektasi terhadap ketersediaan lapangan kerja dan kegiatan usaha juga tercatat berada dalam zona optimistis, masing-masing sebesar 131,7 dan 130,5. Secara spasial, sebagian besar kota mencatat peningkatan IEK, terbesar di Banjarmasin (17,9 poin) disusul Kota Mataram (15,8 poin) dan Ambon (10,2 poin).
”Rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) tercatat relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 73,8 persen,” imbuh Erwin.





