Trump: Sang Pengatur Permainan

oleh -501 Dilihat
Ekonom FEB UGM, Muhammad Edhie Purnawan PhD.(Foto: istimewa)

BEBERAPA hari yang lalu terpapar, bahwa Trump bukan sekadar Presiden. Ia adalah pengatur papan catur dagang yang tak suka berkompromi.

Ia memukul banyak negara, termasuk Indonesia dengan tarif 32 persen, menggenggam defisit dagang sebagai tameng, lalu melangkah maju tanpa menoleh.

Dalam dunia Game Theory, ini bukan kekacauan acak. Ini adalah noncooperative game yang disengaja.

Amerika di bawah Trump bermain sebagai Stackelberg Leader, pemimpin yang menentukan langkah pertama dan memaksa kita, Indonesia, jadi pengikut yang terdesak.

Logikanya sederhana sekaligus brutal, ”America First”, kemenangan mutlak, tak peduli siapa yang jatuh.

Tapi Trump tak berhenti di situ. Ia membumbui strateginya dengan Brinkmanship, berjalan di tepi jurang sambil mengacungkan obor menyala.

Ancaman tarif yang melonjak tiba-tiba, cuitannya yang bikin was-was, dan sikap tak terduga adalah bagian dari permainan ini.

Memaksa Lawan

Ia ingin dunia melihatnya sebagai ”madman” ala Richard Nixon, seseorang yang cukup nekat untuk membakar semuanya, termasuk ekonominya sendiri, demi memaksa lawan berlutut.

Dalam istilah Chicken Game, Trump melaju kencang dengan truk raksasa, berharap kita yang mengendarai mobil kecil menepi ketakutan.

Pertanyaannya, apakah kita benar-benar harus menyerah?

Dengan segala hormat, ketika Menteri Keuangan Sri Mulyani bilang ilmu ekonomi ”tak berguna hari-hari ini”, saya mendengar nada kejujuran seorang praktisi yang lelah dengan teori yang kaku.

Tapi saya yakin, ilmu ekonomi sesungguhnya tak pernah benar-benar mati. Ia hanya menunggu kita membukanya dengan cara baru. Trump boleh bermain secara mengejutkan, tapi game bisa jadi kompas kita untuk berinteraksi dengannya.

Namun, alih-alih membalas dengan tamparan tarif yang gegabah, kita duduk di meja perundingan dengan strategi Nash Bargaining.

Sikap Teguh

Kita ajak Amerika bicara, tawarkan sesuatu yang menarik, akses pasar ICT atau energi, misalnya, sambil menjaga sikap teguh. Ini bukan pertanda lemah, melainkan sebuah strategi memperbesar kue dagang bersama.

Membangun bersama, bukan merusak bersama. Atau, jika Trump terus memukul, kita balas dengan langkah kecil tapi tegas, tarif terbatas pada kedelai atau pesawat AS, sebagai bagian dari tit-for-tat dalam repeated game.

Kita tunjukkan bahwa Indonesia tak suka ribut, tapi juga tak mau diinjak-injak. Paling tidak kita mau subgame perfect equilibrium, sebuah keseimbangan yang lahir dari ketegasan terukur.

Lalu, ada celah lain, Trump tak selalu jelas. Dokumen USTR penuh kabut, dan di situlah kita bisa berselancar. Tunda respon keras, dorong perundingan, bahkan arahkan ke tarif nol banding nol zero-for-zero seperti Europe.

Dalam Bayesian game, kita ubah persepsi Amerika, Indonesia bukan mangsa, tapi mitra yang tangguh sekaligus terbuka. Ilmu ekonomi tak cuma hidup di sini, ia jadi nyawa strategi kita.

Jadi, apa langkah nyata kita?

Pertama, putar kemudi ekspor. Usahakan diplomasi ekonomi optimal agar Trump ke Indonesia lebih ringan. Ini pintu emas untuk tetap mempertahankan pasar Amerika, sekaligus membantu konsumen mereka juga tentunya.

Kedua, jangan berjalan sendiri. Genggam tangan ASEAN, bangun koalisi dagang lewat TIFA atau CPTPP, dan buat Amerika mempertimbangkan ulang sebelum memukul lebih keras.

Ketiga, mainkan kartu licin. Kaitkan tarif dengan urusan besar seperti keamanan Indo-Pasifik. Ini bukan sekadar dagang, ini adalah tawar-menawar di panggung dunia dari banyak perspektif kepentingan. Termasuk kepentingan Amerika yang bisa kita dukung.

  • Penulis, Muhammad Edhie Purnawan PhD, Ekonom FEB UGM.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.