JOGJA, bisnisjogja.id – Universitas Gadjah Mada (UGM) berkomitmen mendorong UMKM lokal bersaing di pasar global. Melalui Pusat Kedokteran Herbal, UGM mendampingi dua UMKM binaan asal Singosaren, Bantul, yaitu Kafe Lokanusa dan Jamu Jogorogo, untuk menjajaki pasar ekspor ke Malaysia.
Produk unggulan berupa Jamu Jogorogo serta aneka olahan herbal seperti teh dan rempah dipersiapkan matang. Sebagian produk ini telah mengantongi sertifikat halal, izin edar PIRT, hingga uji higienitas domestik sebagai modal awal ekspansi.
Peneliti Pusat Kedokteran Herbal UGM, Dr Arko Jatmiko Wicaksono, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah melakukan kolaborasi internasional untuk pendaftaran izin edar produk. Langkah ini diperkuat melalui kunjungan strategis ke Kuala Lumpur pada Juni lalu.
“Dengan dukungan riset dan jejaring global, saya yakin produk kita akan diterima di pasar internasional,” kata Arko dalam keterangannya, Kamis (9/7/2026).
Pangsa Pasar Malaysia
Penelusuran pasar menunjukkan produk berbasis teh dan rempah memiliki pangsa pasar besar di Malaysia. Faktor utamanya adalah kedekatan budaya masyarakat lokal terhadap produk herbal, serta besarnya populasi diaspora Indonesia di Kuala Lumpur.
Guna memuluskan langkah tersebut, UGM menjalin kerja sama strategis dengan International Medical University (IMU) Malaysia. Laboratorium terakreditasi milik IMU akan digunakan sebagai tempat pengujian produk sebelum dipasarkan secara resmi.
Pengujian mencakup parameter kritis yang dipersyaratkan oleh National Pharmaceutical Regulatory Agency (NPRA) Malaysia. Kerja sama ini menjadi fondasi penting karena tanpa izin NPRA, produk tidak dapat diedarkan secara legal.
Pengujian Laboratorium
“Kami sepakat untuk menguji stabilitas bahan baku, cemaran mikroba, cemaran logam berat, serta uji-uji lain yang menjadi syarat utama kelulusan produk di NPRA,” ujar Arko.
Selain pengujian laboratorium, tim UGM berhasil mengamankan jalur distribusi dengan menggandeng distributor lokal di Malaysia. Komitmen ini memastikan produk dapat langsung dikirim begitu lisensi resmi dari NPRA diterbitkan.
Hasil uji pasar juga menunjukkan respons positif dari pemilik restoran di Malaysia terhadap bumbu rempah Lokanusa. Dengan harga Rp 50.000 per 100 gram untuk bumbu rempah dan Rp 30.000 per 50 gram untuk teh, ekspor ini berpotensi besar mendongkrak omzet pelaku UMKM di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah.






