JOGJA, bisnisjogja.id – Berdasarkan struktur ekonomi PDRB 2024, kontribusi sektor pendidikan dan pariwisata dan yang terkait di DIY memang sangat tinggi, mencapai lebih dari 44 persen. Sektor tersebut terdiri atas jasa pendidikan, penyediaan akomodasi dan makan minum, transportasi dan pergudangan.
Di luar sektor-sektor tersebut tampaknya perlu diperhatikan potensinya untuk dikembangkan lebih jauh.
Menurut Guru Besar FBE UAJY, Aloysius Gunadi Brata, sektor-sektor termasud adalah informasi dan komunikasi, industri pengolahan, pertanian, kehutanan, dan perikanan, jasa kesehatan dan kegiatan sosial.
”Secara keseluruhan sektor-sektor ini memiliki kontribusi lebih dari 38 persen,” ungkap Aloysius dalam diskusi bersama ISEI Yogyakarta, Bank Indonesia, OJK, BPD DIY, Kadin DIY dan para pelaku usaha.
Menurutnya, pengembangan sektor alternatif tersebut tentu membutuhkan langkah yang outward looking, dalam arti perlu melihat pasar di luar DIY sebagai tujuan.
Jasa Kesehatan
Sebagai contoh, sektor jasa kesehatan dapat dinilai prospektif karena DIY bukan hanya memiliki fasilitas fisik rumah sakit yang lumayan, tetapi juga didukung oleh ketersediaan SDM kesehatan yang tetap harus diakui sebagian besar terkait dengan sektor pendidikan.
”Berkaitan dengan potensi tersebut, mungkinkah DIY dipersiapkan menjadi salah satu tujuan untuk kepentingan pemeriksanaan, perawatan medis?” tanya Alousius.
Selanjutnya, hal tersebut juga berlaku untuk kegiatan ekonomi kreatif, kerajinan maupun digital kreatif. Pasar luar DIY harus menjadi prioritas sebagai tujuan dari produk-produk sektor-sektor kreatif.
Ia melanjutkan, dengan tingkat pendidikan rata-rata yang baik, penduduk DIY sangat mungkin tertarik mengonsumsi produk-produk pertanian yang sehat, atau lebih bebas dari pestisida.
Tentu tantangan terbesar adalah harga produk demikian cenderung premium, terutama karena pasarnya relatif sempit.
”Ekspansi pasar akan dapat membantu membuat harga tidak harus selalu premium,” jelas Alosius yang juga pengurus ISEI Yogyakarta.





