- Wisatawan domestik enggan berkunjung ke objek wisata tertentu seperti yang terjadi di Bali.
- Sering kali terjadi perlakuan yang diskriminatif antara wisatawan domestik dan asing.
- Hilangkan segala bentuk praktik negatif di objek wisata supaya pengunjung tidak kecewa.
PARIWISATA Bali viral di media sosial beberapa bulan yang lalu, yaitu pada saat Libur Natal dan Tahun Baru 2026 karena wisatawan yang berkunjung turun drastis dan hanya mencapai sekitar 20 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada satu tahun sebelumnya.
Beberapa objek wisata yang lain yang pada tahun 1970-1980an sangat ramai dikunjungi wisatawan seperti Goa Jatijajar, Pantai Samas, dan Goa Selarong, saat ini sangat sepi pengunjungnya. Mengapa bisa begitu ? Semua itu bisa terjadi karena adanya Efek Chagrin (Chagrin Effect).
Efek Chagrin adalah suatu istilah dalam teori ekonomi yang menjelaskan tentang efek dari kekecewaan pelanggan terhadap produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang sudah ada di pasar (existing firm).
Kekecewaan bisa berupa kecewa terhadap kualitas produk maupun pelayanan proses penjualan produk tersebut. Dalam hal ini pelanggan (konsumen) yang kecewa akan mengurangi jumlah produk yang dibelinya, dengan demikian volume atau omzet penjualan existing firm tersebut akan turun.
Keadaan existing firm bisa juga semakin parah dengan munculnya perusahaan baru yang masuk pasar (new entrant). Dalam hal ini, pelanggan yang kecewa punya saluaran untuk melampiaskan kekecewaanya dengan cara membeli produk dari perusahaan baru yang masuk pasar (new entrant). Dalam kondisi seperti ini bisa saja existing firm tersebut terlempar ke luar dari pasar (collapse).
Wujud Kekecewaan Konsumen
Wujud kekecewaan konsumen (wisatawan) di sektor pariwisata bisa berupa, melonjaknya harga tiket pesawat ke tujuan objek wisata, perlakuan yang diskriminatif antara wisatawan domestik dan asing. Kekecewaan berujung pada enggannya wisatawan domestik berkunjung ke objek wisata tertentu seperti yang terjadi di Bali.
Mereka beralih dan lebih memilih Yogyakarta sebagai tujuan wisata seperti yang terjadi pada musim Libur Natal dan Tahun Baru 2026 kemarin.
Kedua, lokasi objek wisata yang semakin kotor, banyak sampah, hamparan pasir pantai yang semakin sempit karena abrasi gelombang laut, dan munculnya PSK di objek wistata. Itu semua membuat wisatawan kecewa dan enggan atau tidak mau lagi mengunjungi objek wisata.
Hal itu terjadi misalnya di objek wisata Pantai Samas. Kondisi itu lebih diperparah dengan munculnya pantai-pantai baru yang ada di sepanjang pantai selatan DIY. Dengan demikian wisatawan yang kecewa mempunyai saluran pelampiasan kekecewaan dengan cara mengunjungi pantai-pantai baru tersebut.
Pedagang Tidak Jujur
Ketiga, pedagang di objek wisata yang curang misalnya menipu timbangan, warung makan yang mencantumkan daftar menu namun tidak mencantumkan harganya sehingga ketika konsumen selesai makan minum dan akan dikenai harga yang sangat tinggi.
Tarif parkir kendaraan yang terlalu tinggi, ketika mau memasuki objek wisata, ada pungutan yang berualang (pungutan ganda). Hal itu membuat wisatawan kecewa dan mereka bisa saja berpendapat bahwa inilah kunjungan wisata yang terakhir kali dan tidak akan pernah mengunjunginya lagi. Sebagai ganti atas kekecewaan tersebut, mereka pindah dan mengunjungi yang lain.
Sama seperti perusahaan, berdirinya perusahaan diharapkan untuk hidup selamanya, demikian pula berdirinya atau munculnya objek wisata mestinya juga diharapkan akan tetap hidup selamanya.
Bagaimana agar objek wisata itu tetap hidup? Perlu tiket masuk dan juga tarif parkir kendaraan tidak terlalu mahal, hindari jangan ada pungutan ganda terhadap wisatawan. Selain itu, pedagang jangan curang, jaga kebersihan, tarif menu di warung makan dicantumkan dan jangan terlalu mahal, menjaga ketertiban dan keamanan.
- Penulis, I Agus Wantara, Dosen FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta.





