Masih Rendah, Perlu Peningkatan Inklusi Keuangan Syariah

oleh -615 Dilihat
Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar.(Foto: istimewa)

JAKARTA, bisnisjogja.id – Peningkatan inklusi keuangan syariah secara cepat dan merata sangat penting. Pasalnya, tingkat inklusi keuangan syariah menurut Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2024 sebesar 12,88 persen, sementara tingkat literasi keuangan syariah mencapai 39,11 persen.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengungkapkan itu dalam Puncak Gebyar Ramadan Keuangan Syariah (Gerak Syariah), di Kantor OJK di Jakarta.

Ia berharap semua jajaran Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) dan tentu para pemangku kepentingan bergerak bersama.

”Selain inklusi keuangan syariah, ada sejumlah tantangan untuk mendorong industri keuangan syariah yaitu pengembangan dan diferensiasi produk yang masih terbatas. Juga terbatasnya sumber daya insani bidang keuangan syariah,” papar Mahendra.

Berbagai program dan kebijakan telah dijalankan OJK untuk terus memperkuat industri keuangan syariah antara lain dengan mengeluarkan sembilan regulasi dalam dua tahun terakhir ini.

Sembilan POJK itu antara lain terkait dengan Kelembagaan BPR/BPRS, Kelembagaan UUS, Tata Kelola Bank Umum, Tata Kelola BUS/UUS, Penerapan Tata Kelola BPR/BPRS.

Keuangan Syariah

”Kamu juga mencatat per Januari 2025, kinerja industri jasa keuangan syariah terus meningkat. Total aset industri keuangan syariah meningkat sebesar 10,35 persen year on year menjadi sebesar Rp 2.860,1 triliun,” jelas Mahendra.

Total aset perbankan syariah sebesar Rp 948,2 triliun, pasar modal syariah Rp 1.740,2 triliun dan lembaga keuangan nonbank sebesar Rp 171,7 triliun.

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (KE PEPK) OJK, Friderica Widyasari Dewi.(Foto: istimewa)

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (KE PEPK) OJK, Friderica Widyasari Dewi mendorong agar pelaku jasa keuangan syariah terus berinovasi untuk terus mengembangkan produk dan layanan jasa keuangan syariah.

”Kita harus bersama mencari cara yang bisa menjangkau masyarakat yang sebetulnya hanya mau dengan syariah,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan selama pelaksanaan Gerak Syariah 2025, peserta mencapai sebanyak 6,35 juta orang melalui beragam kegiatan edukasi keuangan syariah.

Kegiatan Getrak Syariah 2025 telah berlangsung sejak 23 Februari 2025 dan melibatkan kolaborasi dari seluruh penggerak keuangan syariah yakni Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) Syariah.

Ada pula asosiasi, Bank Indonesia, Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS), Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), kementerian/lembaga terkait lainnya, komunitas, media massa serta tokoh masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.