- Pasar Lawas Mataram menghadirkan suasana pasar tempo dulu yang dipadukan dengan kuliner tradisional, kesenian rakyat, serta aktivitas budaya sarat nilai edukasi.
- Berlangsung selama tiga hari. Jumat, 26 September pukul 14.00–21.00, Sabtu–Minggu, 27–28 September pukul 07.00–21.00 WIB. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk umum dan gratis.
JOGJA, bisnisjogja.id – Desa Jagalan, yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Mataram Islam, kembali menjadi sorotan melalui Pasar Lawas Mataram 2025. Agenda tahunan ini berlangsung 26–28 September 2025 di halaman Masjid Besar Mataram Kotagede, Desa Jagalan, Banguntapan, Bantul.
Pasar Lawas Mataram menghadirkan suasana pasar tempo dulu yang dipadukan dengan kuliner tradisional, kesenian rakyat, serta aktivitas budaya sarat nilai edukasi.
Founder Pasar Lawas Mataram sekaligus Lurah Desa Jagalan periode 2016–2023, Gono Santosa, menjelaskan sejarah berdirinya Pasar Lawas Mataram pertama kali digelar pada 2018.
”Tahun 2020–2021 sempat berhenti karena pandemi Covid-19. Tahun ini Pasar Lawas Mataram sudah menginjak ke enam kalinya,” ungkap Gono.
Ia menambahkan, halaman Masjid Besar Mataram pernah menjadi pasar darurat di masa penjajahan. Karena itu, Pasar Lawas menjadi sarana untuk mengenang sekaligus menghidupkan kembali denyut ekonomi rakyat Kotagede.
”Yang berdagang harus warga Desa Jagalan, sebagai bentuk pemberdayaan ekonomi warga. Harga makanan maksimal Rp 10.000, dan putaran uang bisa mencapai Rp 1 miliar. Semua potensi UMKM kami tampilkan, mulai dari sound system, alat musik, hingga kesenian,” paparnya.
Potensi
Agus Podhang, yang juga founder Pasar Lawas, menyampaikan tema tahun ini ”Kebak Tanpa Luber 2025”. Filosofi tersebut menekankan pemanfaatan potensi secara optimal tanpa berlebihan, menjaga keaslian agar tidak hilang, serta menciptakan harmoni sosial.
”Pasar Lawas bukan hanya ruang jual-beli, tetapi ruang kebersamaan di mana priyayi dan rakyat kecil, semua tanpa sekat, bisa berbaur,” tandasnya.
Ketua Panitia Fauzan menegaskan, Pasar Lawas Mataram bukan sekadar nostalgia, melainkan momentum untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.
”Filosofi Kebak Tanpa Luber kami terjemahkan dalam pengalaman kolektif yang hangat, lestari, dan bermanfaat bagi masyarakat,” imbuhnya.
Acara tersebut dapat memberdayakan UKM lokal agar tumbuh berkelanjutan, sekaligus melestarikan kuliner, kesenian, dan kerajinan tradisional.
Para pengunjung dapat menikmati berbagai jajanan lawas seperti klepon, carang gesing, geplak, geplak gereh, jadah manten, dan ragam makanan khas lainnya.
Pasar Lawas Mataram 2025 berlangsung selama tiga hari. Jumat, 26 September pukul 14.00–21.00, Sabtu–Minggu, 27–28 September pukul 07.00–21.00 WIB. Seluruh rangkaian acara terbuka untuk umum dan gratis.





