JOGJA, bisnisjogja.id – Mengelola keuangan di usia muda sering kali dianggap sederhana, namun realitasnya banyak generasi muda terjebak dalam pola konsumtif tanpa perencanaan.
Guru Besar Akuntansi FEB Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Bambang Jatmiko menegaskan kunci utama finansial bukan pada jumlah uang, melainkan pola pikir.
Ia menjelaskan prinsip dasar pengelolaan keuangan harus mengadopsi konsep Plan, Do, Check, Action (PDCA). Menurutnya, PDCA bukan sekadar teori manajemen, melainkan refleksi dari nilai kehati-hatian, evaluasi, dan sikap mawas diri.
”Yang paling berat bukan pada perencanaannya, tetapi pada kontrolnya. Banyak orang bisa merencanakan, tetapi tidak mampu mengendalikan,” ungkap Bambang menekankan pentingnya disiplin diri dalam mengeksekusi rencana keuangan.
Nilai Manfaat Uang
Ia menekankan langkah awal yang krusial adalah memahami nilai manfaat uang. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus memiliki tujuan hidup yang jelas agar penggunaan modal tidak terarah pada hal-hal yang tidak memberikan manfaat optimal bagi masa depan.
Lebih lanjut, ia mengaitkan kesadaran finansial dengan keputusan strategis, termasuk investasi pendidikan. Pemilihan bidang studi diharapkan tidak sekadar mengikuti tren, namun harus mempertimbangkan keberlanjutan ekonomi dan daya saing di masa depan.
”Jika pendidikan yang kita tempuh tidak mampu menopang kehidupan, maka itu akan menjadi persoalan di kemudian hari,” jelasnya mengingatkan pentingnya relevansi antara keahlian dan kemandirian ekonomi.
Selain aspek teknis keuangan, Bambang menguraikan enam faktor kunci kesuksesan anak muda. Tiga poin awal mencakup keberanian mengambil keputusan, kemampuan membaca peluang lingkungan, serta transformasi hobi menjadi aset produktif yang bernilai ekonomi.
Bangun Kemandirian Finansial
Poin berikutnya adalah kreativitas dan inovasi. Anak muda dituntut mampu mengolah ide menjadi sesuatu yang bernilai serta menciptakan keunikan sebagai pembeda di pasar. Faktor terakhir yang tidak kalah penting adalah doa sebagai fondasi spiritual.
Keenam faktor tersebut dinilai saling berkaitan dalam membangun kemandirian finansial. Tanpa perpaduan antara perencanaan yang matang, keberanian bertindak, dan nilai spiritual, kesuksesan finansial akan sulit dicapai secara berkelanjutan.
Bambang mengingatkan literasi keuangan bukan hanya soal teknis mencatat pemasukan, melainkan tentang membangun pola pikir dan prioritas. Generasi muda diharapkan mampu mengarahkan hidup secara bijak demi masa depan yang terarah dan stabil.





