Akar Bencana, Deforestasi dan Tata Ruang Buruk

oleh -557 Dilihat
Guru Besar Teknik Sipil sekaligus pakar geoteknik UMY, Prof Agus Setyo Muntohar.(Foto: dok UMY)

JOGJA, bisnisjogja.id – Indonesia, khususnya Sumatra mengalami bencana luar biasa. Begitu pula sejumlah wilayah di negara tetangga.

Ada pihak tertentu yang menyalahkan hujan ekstrem dan siklon tropis sebagai penyebab utama bencana. Tidak demikian dengan Guru Besar Teknik Sipil sekaligus pakar geoteknik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Prof Agus Setyo Muntohar.

Ia mengajak masyarakat melihat persoalan ini melalui sudut pandang ilmu pengetahuan dan wahyu Al-Qur’an.

”Bencana bukan semata-mata akibat fenomena alam. Dalam kajian ilmiah maupun perspektif Al-Qur’an, manusia memiliki kontribusi besar pada kerusakan lingkungan yang memicu bencana,” tandas Agus.

Ia menyampaikan itu dalam kajian ilmiah bertema ”Pandangan Al-Qur’an terhadap Sumber Daya Alam” yang digelar di Masjid Ahmad Dahlan UMY, Kamis (4/12/2025).

”Kita sering terburu-buru menimpakan kesalahan kepada alam. Padahal tugas kita sebagai khalifah adalah menjaga dan mengharmonisasikan bumi agar tetap seimbang,” terangnya.

Ulah Manusia

Agus mengutip Surat Ar-Rum ayat 41 untuk menegaskan, kerusakan yang terjadi di darat dan laut merupakan akibat ulah manusia, mulai dari eksploitasi sumber daya alam, pengabaian tata ruang, hingga alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Sebagai pakar dalam bidang tanah longsor dan forecasting disaster, ia menjelaskan dalam literatur ilmiah klasik hingga modern, hujan, angin, dan gempa bukan dikategorikan sebagai penyebab bencana, melainkan pemicu (triggering factors).

Faktor utama yang membuat suatu wilayah rentan justru perubahan yang dilakukan manusia terhadap struktur dan ekosistem alam.

”Seperti SPBU, ia punya potensi kebakaran. Tapi tanpa pemantik, tidak akan terbakar. Pemantiknya adalah tindakan manusia,” ujarnya.

Menurut Agus, kesalahan paradigma membuat masyarakat mudah menyalahkan hujan sambil mengabaikan akar persoalan, seperti deforestasi, tata ruang yang keliru, pembangunan di zona rawan, dan minimnya perencanaan risiko jangka panjang.

No More Posts Available.

No more pages to load.