JOGJA, bisnisjogja.id – Pakaian impor bekas yang sedang menjadi pembicaraan hangat ternyata berbahaya bagi lingkungan. Hal itu bisa berakibat pada krisis lingkungan.
Brand Ambassador Sahabat Lingkungan, Pujia Nuryamin Akbar mengungkapkan pendapatnya tersebut pada Diskusi Komunikasi Magister (Diskoma) Fisipol UGM yang bertajuk ”Di balik Euforia Thrifting : Gaya Hidup, Krisis Lingkungan, hingga Ilusi Keberlanjutan”.
”Impor pakaian bekas menyimpan dampak yang kompleks, terutama memicu budaya overconsumption serta memperbesar krisis lingkungan yang dipicu oleh limbah tekstil dari fast fashion,” jelas Pujia.
Selain itu, juga menimbulkan tantangan serius bagi produk dan industri lokal. Karena itu, pemerintah mengeluarkan kebijakan menghentikan impor pakaian bahan bekas.
Menurut Pujia, pakaian bekas yang digunakan menggunakan bahan polyester yang mengandung senyawa mikroplastik.
”Sebagian besar terbuat dari bahan yang mengandung mikroplastik. Partikel ini tidak hanya berakhir di TPA, tetapi juga ketika dicuci akan meluruh dan berakhir di lingkungan serta lautan,” paparnya.
Limbah Dunia
Narasumber lain, Puteri Indonesia 2023 Farhana Nariswari menguraikan dampak fast fashion dan ketimpangan distribusi limbah tekstil dunia.
Ia mengungkapkan data, sebagian besar pakaian donasi dari negara maju justru berakhir di negara berkembang.
”Hanya sekitar 10 persen pakaian donasi yang benar-benar dipakai kembali. Sisanya 90 persen menjadi limbah yang berakhir di negara-negara berkembang,” tandas Farhana.
Pada kesempatan itu, ia menekankan pentingnya apresiasi pada produk lokal. Ia memperkenalkan konsep produk buatan tangan berkualitas tinggi dan mengaitkannya dengan kekayaan tekstil Indonesia seperti tenun dan batik.
Ia sendiri menggunakan kain dari berbagai daerah dalam sesi pemotretan dan berbagai kegiatan selama rangkaian acara Puteri Indonesia sebagai bentuk dukungan kepada para perajin lokal.





