Alih Fungsi Lahan Gusur Satwa Langka, Gajah dan Lainnya Jadi Korban

oleh -40 Dilihat
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof Raden Wisnu Nurcahyo.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Banjir bandang dan tanah longsor di Sumatra merenggut ratusan jiwa dan ratusan lainnya hilang. Kecuali manusia, hewan langka juga ikut menjadi korban, salah satunya gajah.

Seekor gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) mati akibat banjir di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh. Gajah terbenam di antara tumpukan kayu hutan dan lumpur hitam, diduga habitat asli mereka longsor dan hutan alami habis.

”Ini menjadi perhatian serius bagi semua pihak agar memperhatikan habitat dari satwa, tidak hanya gajah melainkan semua binatang. Sumatra memiliki beragam jenis spesies flora dan fauna termasuk yang langka,” papar Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UGM, Prof Raden Wisnu Nurcahyo, Selasa (2/12/2015).

Ia menilai, hilangnya habitat karena ulah manusia. Flora dan faunanya ikut menjadi korban akibat pembabatan hutan, pembalakan liar.

Menurut Wisnu, penyebab banjir bandang yakni alih fungsi lahan yang mengakibatkan gajah-gajah menjadi terfragmentasi dan menjadi semakin terjepit.

Tidak hanya kelapa sawit, habitat asli gajah juga dialihfungsikan menjadi pertambangan, pembuatan jalan, permukiman, dan perladangan. Selain gajah yang menjadi korban, bentang alam pun kian menyusut akibat dari ulah manusia.

Pemukiman Warga

Akibat alih fungsi hutan, gajah terseret ke pemukiman warga. Padahal bagi seekor gajah, perlu tempat untuk sosialisasi, berkumpul bersama dengan kelompoknya, dengan kawanan gajah yang lain.

”Gajah juga sudah memiliki jalur misalnya untuk mandi, mencari makan, berkembang biak di habitat yang nyaman, sehingga populasinya bisa semakin meningkat. Tapi dengan adanya kondisi seperti ini, membuat mereka semakin terjepit dan terpaksa terseret ke pemukiman,” ujar Wisnu.

Ia berpendapat, untuk mencegah hal yang serupa tersebut tentu perlu konservasi dengan cara menjaga habitat asli gajah. Menurutnya habitat paling baik terdapat di tanah Sumatra.

Karena itu pelarangan membuka pertambangan atau pembangunan infrastruktur jalan yang membelah hutan perlu tegas diterapkan.

Namun demikian, bagi Wisnu pembunuh utama gajah adalah alih fungsi lahan menjadi kelapa sawit. Khusus di Aceh, ini mestinya ya segera dibuat ketentuan tidak boleh ada lagi pembukaan lahan untuk kelapa sawit.

”Bencana yang terjadi di Sumatra merupakan ulah manusia melalui penebangan hutan, penanaman kelapa sawit, dan membuka lahan untuk pertambangan. Hal ini tentu tidak hanya memberi dampak pada manusia, tetapi juga satwa liar,” tegasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.