Bangladesh Pandang Indonesia Mitra Strategis Menuju Integrasi ASEAN

oleh -756 Dilihat
Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia, Md Tarikul Islam.(Foto: dok UMY)

JOGJA, bisnisjogja.id – Bangladesh memandang Indonesia sebagai mitra strategis dalam upaya memperkuat integrasi kawasan Asia Tenggara melalui ASEAN.

Hal ini disampaikan Duta Besar Bangladesh untuk Indonesia, Md Tarikul Islam, dalam agenda Guest Lecture yang diselenggarakan Program Studi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Rabu (24/12/2025).

Dalam paparannya, Tarikul Islam menjelaskan Bangladesh saat ini tengah mengupayakan status sebagai ASEAN Sectoral Dialogue Partner, sebuah langkah strategis untuk memperluas jejaring kerja sama kawasan.

Menurutnya, Indonesia memiliki peran penting dalam mendukung langkah tersebut mengingat posisi strategis dan pengaruhnya di ASEAN.

”Indonesia kami pandang sebagai mitra kunci Bangladesh dalam memperkuat keterlibatan dengan ASEAN dan mendorong integrasi kawasan yang lebih inklusif,” ujar Tarikul Islam.

Ekonomi Sektoral

Selain isu kawasan, Tarikul Islam juga menekankan pentingnya penguatan kerja sama ekonomi sektoral sebagai pilar utama hubungan bilateral Bangladesh–Indonesia. Ia menilai hubungan ekonomi kedua negara terus berkembang, namun masih menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya dimaksimalkan.

”Kerja sama ekonomi menjadi salah satu fokus utama hubungan bilateral Bangladesh dan Indonesia. Kami melihat banyak peluang konkret yang dapat dikembangkan untuk kepentingan bersama,” jelasnya.

Beberapa sektor strategis yang disoroti meliputi energi, pertanian, industri, dan konektivitas. Di sektor energi, kedua negara telah membentuk joint working group untuk mendorong kolaborasi pengembangan infrastruktur, energi terbarukan, serta eksplorasi minyak dan gas.

Neraca Perdagangan

Tarikul Islam juga menyinggung ketimpangan neraca perdagangan antara kedua negara. Saat ini, impor Bangladesh dari Indonesia mencapai sekitar USD 3,5 miliar, sementara ekspor Bangladesh ke Indonesia masih berkisar USD 100–200 juta.

”Kami menyadari masih adanya ketimpangan perdagangan. Karena itu, Bangladesh mendorong pembahasan Preferential Trade Agreement guna menciptakan perdagangan yang lebih seimbang,” tandasnya.

Melalui forum akademik ini, ia menegaskan diplomasi ekonomi tidak hanya dilakukan di tingkat pemerintah, tetapi juga melalui dialog dengan kalangan akademisi dan mahasiswa. Ia berharap kegiatan seperti guest lecture dapat memperkuat pemahaman bersama dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas di masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.