- Banyak merek global yang beroperasi secara multinasional merupakan perusahaan milik keluarga.
- Dalam perusahaan keluarga, anggota keluarga dapat sebagai pemilik, manajer, karyawan, atau kombinasi ketiganya.
- Dari 80 persen perusahaan keluarga hanya 30 persen yang berlanjut ke generasi kedua dan 12 persen bertahan hingga generasi ketiga.
JOGJA, bisnisjogja.id – Sebanyak 75-80 persen bisnis seluruh dunia ternyata milik keluarga. Banyak yang masih bertahan tetapi tidak sedikit yang jatuh karena ada anggapan tidak profesional.
Dalam program 360 episode manajemen yang bertajuk ”Why Family Businesses Are Decimating in the New Generation” ekonom UGM, Rocky Adiguna PhD menyampaikan banyak hal tentang bisnis keluarga.
”Bisnis keluarga bukanlah hal yang bertentangan dengan profesionalisme. Justru, banyak merek global yang beroperasi secara multinasional merupakan perusahaan milik keluarga dengan tata kelola yang kuat,” papar Rocky.
Ia menyebut ada perusahaan yang berskala kecil, menengah, besar, bahkan multinasional. Mereka dominan menjadi kontributor dalam Produk Domestik Bruto (PDB) suatu negara.
Karakteristik Bisnis Keluarga
Berdasarkan peran bisnis keluarga dalam perekonomian nasional, ia menjelaskan, muncul pertanyaan mengenai karakteristik yang membedakan perusahaan keluarga dan perusahaan nonkeluarga.
Rocky mengenalkan model bernama Three Circles Model. Model lingkaran tersebut menggambarkan posisi keluarga, bisnis, dan kepemilikan (ownership). Dalam perusahaan keluarga, anggota keluarga dapat berperan sebagai pemilik, manajer, karyawan, atau kombinasi dari ketiganya.
Situasi tersebut berbeda dengan perusahaan nonkeluarga karena karyawan atau pemilik tidak selalu memiliki hubungan keluarga. Hal ini menjadi kompleks jika pengelolaan bisnis keluarga tidak diatur dengan baik.
”Kompleksitas tersebut terasa dalam konteks transisi antargenerasi. Bahkan terdapat pepatah Tiongkok yang menyatakan bisnis keluarga gagal bertahan hingga generasi ketiga,” tandasnya.
Transisi Generasi Sulit
Menurut Rocky, dari 80 persen perusahaan keluarga hanya 30 persen yang mampu berlanjut ke generasi kedua dan sekitar 12 persen yang bertahan hingga generasi ketiga. Ada kecenderungan transisi antargenerasi semakin sulit.
Ia menilai kegagalan tersebut bukanlah hal yang tidak bisa dicegah. Sejumlah perusahaan keluarga mampu bertahan hingga lintas generasi. Misalnya di Jepang, perusahaan bernama Hoshi Ryokan telah dikelola oleh 47 generasi sejak tahun 1200an.
Contoh lain, Zamil Group di Arab Saudi telah memasuki generasi kelima, sementara Antinori di Italia mampu bertahan hingga 25 generasi.
Selain itu, di Indonesia terdapat perusahaan keluarga yang mampu bertahan lama, seperti Ayam Goreng Mbok Berek di Yogyakarta yang bertahan hingga enam generasi.
Menariknya, keberlanjutan usaha tersebut tidak ditopang oleh tata kelola yang kaku, melainkan kesepakatan keluarga terkait penggunaan merek di setiap cabang usaha.





