- Ekonomi syariah bukan lagi sekadar alternatif tapi jadi motor penggerak ekonomi.
- Menciptakan model pertumbuhan yang lebih berkeadilan.
- Indonesia memiliki modal utama yakni masyarakat Muslim terbesar di dunia.
JOGJA, bisnisjogja.id – Indonesia kini tengah mengarahkan pembangunannya pada sektor ekonomi syariah sebagai pilar strategis masa depan. Dalam gelaran Sarasehan 99 Ekonom Syariah baru-baru ini, sebuah pesan kuat ditegaskan, ekonomi syariah bukan lagi sekadar alternatif, melainkan harus bertransformasi menjadi motor pertumbuhan baru bagi perekonomian nasional.
Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Yogyakarta, Prof Didi Achjari mengungkapkan itu dalam ”Jagongan Navigasi Ekonomi Syariah 2026”, Sabtu (28/2/2026). Acara mengambil tema ”Ekonomi Syariah (Tidak) Efisien dan (Tidak) Sesuai Prinsip Syariah” di GIK UGM.
Hadir dalam acara itu, Kepala Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Prof Anggito Abimanyu, Dewan Pakar ISEI Yogyakarta, Prof Edy Suandi Hamid, Presiden Direktur Harian Jogja, Arif Budi Susilo, Wakil Wali Kota Yogyakarta Wawan Harmawan dan lainnya.
Didi melanjutkan, keuangan syariah dipandang sebagai strategi krusial untuk menciptakan model pertumbuhan yang lebih berkeadilan. Berbeda dengan model ekonomi konvensional yang seringkali terjebak pada akumulasi modal tanpa distribusi yang merata.
”Ekonomi syariah menawarkan instrumen yang memastikan aliran kesejahteraan menyentuh seluruh lapisan masyarakat melalui prinsip bagi hasil dan keadilan sosial,” ujarnya.
Penguatan Daya Saing
Dalam konteks keuangan syariah, narasi yang dibangun kini lebih progresif dan berorientasi pada stabilitas makroekonomi. Keuangan syariah tidak lagi dipandang sebagai entitas eksklusif, melainkan sebuah ekosistem finansial yang mengedepankan transparansi dan mitigasi risiko yang lebih sehat.
Dengan mengintegrasikan sektor riil dan sektor keuangan secara langsung, sistem ini terbukti lebih resilien dalam menghadapi volatilitas pasar global.
Modernisasi layanan keuangan syariah melalui digitalisasi juga menjadi catatan penting bagi para ekonom. Transformasi teknologi di perbankan syariah dan pasar modal syariah memungkinkan akses yang lebih luas bagi pelaku UMKM. Inovasi ini memastikan bahwa inklusi keuangan bukan sekadar angka, melainkan realitas di mana pelaku usaha kecil dapat tumbuh bersama dalam ekosistem yang suportif.
Dengan modal pasar domestik yang masif dan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki keunggulan komparatif yang tidak dimiliki negara lain. Potensi ini adalah modal utama bagi Indonesia untuk beralih peran dari sekadar target pasar global menjadi pusat gravitasi ekonomi syariah dunia.






