JOGJA, bisnisjogja.id – Program EQUITY Community Development 2026 Universitas Gadjah Mada (UGM) meluncurkan inisiatif strategis bertajuk ”Pemberdayaan Srikandi Desa Hargotirto, Kulon Progo dalam Pengembangan Produk Kefarmasian Berbasis Empon-Empon melalui Penetapan Mutu Jahe Berbasis Kadar 6-Shogaol”.
Program pengabdian masyarakat berbasis riset aplikatif ini dirancang khusus untuk mendongkrak nilai ekonomi komoditas lokal. Langkah strategis tersebut dilakukan melalui standardisasi mutu ilmiah dengan dukungan penuh dari kolaborator internasional.
Ketua Program Equity Pengabdian kepada Masyarakat Farmasi UGM 2026, Prof Agung Endro Nugroho menuturkan, istilah ”Srikandi Desa Hargotirto” merepresentasikan peran sentral perempuan dalam menggerakkan roda ekonomi hilirisasi pertanian di wilayah tersebut.
Keterlibatan aktif kelompok perempuan tersebut menjadi motor penggerak utama dalam mengoptimalkan potensi desa.
Percontohan Pemberdayaan Masyarakat
Agung mengungkapkan, sejak tahun 2010, Desa Hargotirto telah ditetapkan sebagai desa percontohan pemberdayaan masyarakat oleh Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) yang bekerja sama dengan UGM. Program ini fokus pada penguatan kapasitas dan kemandirian ekonomi perempuan di perdesaan.
Hingga kini, tercatat ada 11 Kelompok Wanita Tani (KWT) yang aktif menjalankan berbagai kegiatan usaha produktif di desa tersebut. Bahkan, salah satu kelompok binaan telah berhasil mengukir prestasi gemilang sebagai Juara I di tingkat kabupaten.

”Pemilihan empon-empon sebagai basis pengembangan produk sangat beralasan, mengingat Kabupaten Kulon Progo merupakan salah satu sentra utama komoditas ini di DIY. Sektor tersebut memiliki potensi pasar yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan,” papar Agung.
Produk Unggulan Kulon Progo
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume produksi empon-empon di Kulon Progo sangat dominan dibanding wilayah lain. Komoditas jahe, kencur, kunyit, temu ireng, temu kunci, lengkuas, hingga temulawak menjadi produk unggulan yang menguasai pasokan daerah.
Fokus utama program tahun 2026 yakni mengubah paradigma penentuan mutu jahe di tingkat petani. Selama ini, penilaian kualitas komoditas jahe di masyarakat masih terbatas pada aspek fisik, belum menyentuh standarisasi parameter ilmiah.
Padahal, jahe memiliki nilai jual tinggi di industri farmasi karena kandungan senyawa bioaktif seperti 6-shogaol dan 6-gingerol. Kedua senyawa aktif tersebut terbukti secara klinis memiliki khasiat sebagai antiinflamasi, antioksidan, hingga antidiabetik.
”Pendekatan berbasis sains dapat meningkatkan nilai tambah produk empon-empon sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat, khususnya kelompok perempuan di Desa Hargotirto,” imbuh Agung.






