JOGJA, bisnisjogja.id – Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi salah satu provinsi dengan capaian sanitasi layak tertinggi di Indonesia. Pada 2024, sebanyak 96,71 persen rumah tangga di DIY telah memiliki akses terhadap sanitasi layak.
Namun, tingginya akses belum berarti persoalan sanitasi selesai: tantangan berikutnya adalah memastikan limbah domestik benar-benar dikelola dengan aman agar tidak kembali mencemari tanah dan sumber air.
Konteks nasional menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih perlu mendapat perhatian. Pada 2022, UNICEF melaporkan, berdasarkan Studi Kualitas Air Minum Rumah Tangga Kementerian Kesehatan 2020, bahwa hampir 70% dari sekitar 20.000 sumber air minum rumah tangga yang diuji di Indonesia terkontaminasi limbah tinja.
Data yang lebih baru dari Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2024 Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa akses terhadap air minum aman secara nasional baru mencapai 30,45 persen.
Olah Air Limbah
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan sanitasi tidak berhenti pada penyediaan toilet dan akses dasar. Air limbah juga perlu diolah dengan aman, sumber daya air digunakan lebih efisien, dan hasil pengolahan sebisa mungkin dimanfaatkan kembali untuk memberikan nilai bagi masyarakat.
Pesan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam Townhall Muda for Smart Sanitation bertema “From Waste to Worth: Membangun Ekosistem Kolaboratif untuk Smart Sanitation di Yogyakarta” di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Forum yang diinisiasi Pijar Foundation, KADIN DIY, Pemda DIY dan UGM ini mempertemukan pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, mahasiswa, dan mitra teknologi untuk melihat sanitasi tidak hanya sebagai persoalan infrastruktur, tetapi juga sebagai bagian dari kesehatan, lingkungan, inovasi, dan ekonomi.
Dalam sambutannya, Gusti Kanjeng Ratu Mangkubumi, Ketua KADIN DIY, menekankan bahwa ketiga dimensi tersebut tidak perlu berjalan sendiri-sendiri.
”Sanitasi bukan hanya persoalan toilet atau limbah. Ketika air limbah dapat diolah dengan aman dan dimanfaatkan kembali, kita tidak hanya membantu menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat, tetapi juga menciptakan manfaat yang lebih produktif. Karena itu, sanitasi perlu kita lihat bukan semata sebagai biaya, tetapi sebagai investasi untuk kesehatan, produktivitas, dan keberlanjutan,” ujar GKR Mangkubumi.
Air Limbah Menjadi Sumber Daya
Gagasan From Waste to Worth diterjemahkan melalui Smart Sanitation, sebuah inisiatif kolaborasi Pijar Foundation, Tahir Foundation, dan Gates Foundation dengan dukungan teknis Asian Institute of Technology (AIT), Thailand.
Program ini menggunakan sistem pengolahan air limbah terdesentralisasi yang memungkinkan air domestik diolah kembali menjadi air sekunder untuk kebutuhan non-konsumsi seperti urban farming, toilet flushing hingga penelitian.
Di Yogyakarta, manfaat penggunaan kembali air hasil pengolahan mulai terlihat di Rusunawa Bener. Air hasil pengolahan digunakan untuk mendukung pertanian perkotaan yang menghasilkan cabai, pepaya, jagung, dan terong bagi warga. Praktik ini menunjukkan bagaimana pengelolaan sanitasi dapat bergerak melampaui pengolahan limbah menuju pemanfaatan kembali sumber daya secara produktif.
Dalam rangkaian Townhall, Pijar Foundation secara simbolis menyerahkan 15 unit Smart Sanitation di DIY kepada KADIN DIY, yang menandai kolaborasi lebih lanjut dengan dunia usaha dan pemangku kepentingan daerah dalam memperkuat ekosistem sanitasi di Yogyakarta.
Sebanyak 15 instalasi Smart Sanitation telah dipasang di 15 lokasi di DIY, mencakup institusi pendidikan, rusunawa, kantor pemerintah, dan fasilitas publik.
Ruang Belajar dan Pengembangan Inovasi
Kehadiran Smart Sanitation di Yogyakarta, khususnya di Universitas Gadjah Mada, memiliki nilai penting untuk menghubungkan implementasi teknologi dengan pembelajaran, penelitian, dan pengembangan inovasi.
Instalasi Smart Sanitation di lingkungan pendidikan seperti UGM diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai infrastruktur pengolahan air limbah, tetapi juga menjadi living laboratory bagi pelajar, mahasiswa dan akademisi untuk mempelajari, menguji, dan terus mengembangkan solusi sanitasi.
GKR Mangkubumi mendorong mahasiswa untuk melihat keberadaan teknologi tersebut sebagai ruang untuk terus bereksperimen dan memperbaiki solusi.
”Jangan hanya dilihat sebagai sebuah alat. Saya berharap ini juga menjadi ruang belajar, ruang penelitian, dan ruang inovasi bagi mahasiswa kita. Anak-anak muda jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi agen perubahan dan agen inovasi yang terus bertanya bagaimana solusi ini dapat dibuat lebih baik, lebih efisien, dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar GKR Mangkubumi.





