Harga Mahal, Rakyat Kesulitan Menjangkau Pangan Sehat

oleh -580 Dilihat
Guru Besar Bidang Teknologi Pangan UGM, Sri Raharjo.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Pangan sehat menjadi idaman setiap orang. Sayangnya, tidak semua masyarakat Indonesia bisa memperoleh pangan sehat. Salah satu penyebabnya, harga pangan sehat mahal.

The State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI)melaporkan, sebanyak 43,5 persen penduduk Indonesia tidak mampu membeli pangan sehat. Pasalnya, akses yang terbatas dan biaya mahal untuk dapat mengkonsumsi pangan sehat.

Guru Besar Bidang Teknologi Pangan UGM, Sri Raharjo mengakui bahwa kebutuhan pangan sehat di Indonesia harganya relatif mahal.

”Kalau mau menjangkau protein nabati, protein hewani, itu nanti nilainya sehari-hari bisa mencapai Rp 40.000. Jadi kalau menurut standarnya, panduannya itu USD 2,5,” ungkap Sri.

Ia memaparkan, kebutuhan gizi tiap individu idealnya dikonsumsi sebesar 2.150 kkal untuk tiga kali makan dalam sehari. Dengan jumlah kalori sebanyak itu terbagi menjadi beberapa komponen yang menjadi kebutuhan gizi manusia, yaitu karbohidrat, protein, mineral, dan vitamin.

Namun demikian, tidak semua masyarakat dapat memenuhi seluruh komponen gizi tersebut, terlebih lagi komponen protein hewani yang cenderung mahal harganya.

”Komponen utama dari kalori makanan yang diandalkan hanya sekedar karbohidrat sedangkan komponen protein relatif terbatas. Karena nanti kalau sudah masuk pada pangan-pangan yang mengandung protein, terutama protein hewani harganya akan lebih mahal,” jelasnya.

Produksi Terbatas

Sri memperkirakan jika satu orang dewasa memenuhi kebutuhan seluruh komponen gizi tersebut dalam sebulan dapat mencapai Rp 1,2 juta. Satu keluarga yang memiliki empat anggota bakal mengeluarkan uang hingga Rp 5 juta per bulannya.

”Nah sekarang, berapa banyak rumah tangga atau kepala keluarga itu yang penghasilannya dua kali dari itu. Kalau ditetapkan pada nilai sebesar itu, proporsi kepala keluarga atau rumah tangga yang penghasilannya sekurangnya Rp 10 juta ada berapa? Itu mungkin kurang dari 30 persen penduduk Indonesia,” jelasnya.

Mahalnya makan sehat di Indonesia menurut Sri terjadi karena produksi pangan yang terbatas sehingga tidak tercukupi untuk pemenuhan kebutuhan. Solusinya, pemenuhan kebutuhan melalui impor.

Bahan pangan seperti daging, susu, ataupun jagung sebagian melalui impor. Bahkan hampir 80 persen susu sebagai kebutuhan protein impor dari luar negeri. Harga bahan impor tersebut dipengaruhi oleh pasar dunia.

”Harga pasar dunia cenderung akan selalu naik karena juga ketersediaannya juga terbatas. Negara-negara pengekspor mengutamakan pemenuhan pangan negaranya dulu,” jelasnya.

Ia memberi masukan, untuk mengatasi permasalahan tersebut terdapat dua poin penting yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah.

Pertama, pemerintah harus menjaga ketersediaan pangan. Kedua, meningkatkan akses daya beli kepada konsumen. Kalau kemampuan produksi dalam negeri rendah, perlu bantuan impor.

”Impor juga tidak bisa tiba-tiba langsung dikurangi atau dihentikan, karena akan membuat pasokan pangan dalam negeri kita menjadi berisiko kalau bahan pangan impor kurang,” imbuh Sri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.