- Mayoritas pelaku UMKM merupakan perempuan yang mengelola usaha dari rumah.
- Pelaku UMKM DIY banyak bergerak di bidang kuliner, fesyen, dan kriya.
- Banyak UMKM belum optimal memanfaatkan media sosial untuk memperluas pemasaran.
JOGJA, bisnisjogja.id – Memperingati Hari Ibu, Cabang Utama JNE Yogyakarta kembali menegaskan komitmennya mendukung UMKM perempuan lewat Workshop Digital Marketing. Pelaku UMKM memperoleh banyak pencerahan setelah mengikuti kegiatan tersebut.
Kepala Cabang Utama JNE Yogyakarta, Adi Subagyo, mengatakan perempuan memiliki peran sangat dominan dalam ekosistem UMKM di Indonesia.
Menurutnya, mayoritas pelaku UMKM merupakan perempuan yang mengelola usaha dari rumah, seiring perubahan perilaku belanja masyarakat yang kini beralih ke platform daring.
”Kami sangat konsisten mendukung ibu-ibu pelaku UMKM, terutama dalam pengembangan usaha melalui layanan pengiriman. Dengan sistem online, ibu-ibu bisa mengembangkan bisnis dari rumah dan mengirim produk ke berbagai daerah bahkan seluruh Indonesia,” papar Adi dalam workshop yang berlangsung di Kantor Harian Jogja, Senin (22/12/2025).
Workshop tersebut mendapat dukungan berbagai pihak seperti JNE, Bank BPD DIY Cabang Senopati, Akur Optik 55 Cabang Kotagede, Kimia Farma, Alfath, Yamaha Sumber Baru Motor Mangkubumi.
Ada pula Hotel Alana Malioboro, Hotel Aston Gejayan, Rumah Ori Catering, Smartfren XL Smart, Naava Green, Aicare The Label, Hotel LPP Garden, Suraloka Interactive Zoo, dan Alfath.
Kuliner dan Fesyen
Berdasarkan data internal JNE, Adi mengungkapkan sebagian besar pengiriman produk UMKM asal Yogyakarta masih didominasi tujuan wilayah Pulau Jawa. Dari sisi sektor usaha, pelaku UMKM DIY banyak bergerak di bidang kuliner, fesyen, dan kriya.
”Namun untuk pengiriman melalui JNE, sektor fesyen dan produk ekonomi kreatif masih mendominasi,” ujarnya.
Adi menegaskan UMKM merupakan fondasi utama perekonomian nasional, termasuk saat krisis ekonomi 1998 lalu. Karena itu, JNE terus aktif berkolaborasi dengan UMKM di Jogja melalui berbagai program, seperti promo gratis ongkir, publikasi produk, hingga akuisisi produk UMKM untuk dipasarkan melalui jaringan JNE di seluruh Indonesia.
”Yogyakarta punya potensi besar sebagai kota pendidikan, budaya, dan wisata. UMKM sangat lekat dengan identitas itu dan punya peluang besar untuk terus dikembangkan,” tandasnya.
Literasi Digital
Affiliator Jogja, Dinda, menyoroti pentingnya literasi digital bagi pelaku UMKM perempuan. Menurutnya, masih banyak UMKM yang belum optimal memanfaatkan media sosial untuk membangun branding dan memperluas pemasaran.
”Pada era digital, branding UMKM sangat penting, mulai dari hal sederhana seperti WhatsApp, lalu berkembang ke Facebook, Instagram, hingga TikTok. Kalau ibu-ibu tidak dikenalkan sejak sekarang, produknya akan sulit menjangkau pasar yang lebih luas,” imbuhnya.
Pada pemberdayaan berbasis lingkungan, pemilik Rumah Kreatif Tukik, Yenny, menilai potensi pengolahan limbah kain perca di DIY sangat besar.
”Modalnya kecil, tapi nilai jualnya bisa berkali lipat. Selain meningkatkan ekonomi juga membantu mengurangi limbah,” ungkapnya.
Narasumber lain, Desainer Grafis Jogja, Bowo, menekankan pentingnya desain grafis sebagai ujung tombak pemasaran UMKM di era digital.
”Visual yang kuat mampu membangun citra merek. Dengan platform seperti Canva, UMKM kini bisa lebih mudah dan cepat memproduksi konten promosi,” tegasnya.






