”PADA suatu hari dalam keluarga yang memiliki tiga anak, anak pertama meminta uang jajan Rp 100 ribu tetapi hanya diberi sebesar Rp 50 ribu oleh sang ayah. Anak ketiga meminta uang jajan sebesar Rp 20 ribu dan diberi Rp 50 ribu oleh sang ibu karena merupakan anak bungsu sedangkan bagaimana dengan anak kedua?”
Prolog tersebut merupakan situasi nyata yang harus dihadapi oleh kelas menengah terutama di Indonesia, menjadi anak tengah yang terhimpit antara anak pertama dan ketiga. Menjadi kelas menengah di Indonesia merupakan disinsentif karena tidak disayang seperti si sulung (kaya) dan si bungsu (miskin).
Menjadi kelas menengah adalah bencana nyata karena terus dibayangi dalam kerapuhan kebijakan domestik dan global.
Kenyataan menurunnya kelas menengah yang berkurang sebanyak 9,48 juta orang sepanjang tahun 2019-2024 bukanlah fenomena yang sifatnya anomali. Sangat rasional kelas menengah di Indonesia kembali masuk dalam jurang kemiskinan.
Perubahan Dinamis
Kondisi dunia dalam beberapa tahun terakhir yang penuh dengan perubahan dinamis menjadi tantangan mulai dari perang dagang, Covid-19, tensi geopolitik, budaya multipolar, dan era suku bunga tinggi. Berbagai tantangan tersebut membuat banyak scarring effect pada semua lini kehidupan terutama pada bidang ekonomi dan pendidikan yang sangat erat dengan kelas menengah.
Lanskap tersebut akibat komputerisasi yang memengaruhi dari behavioural dan juga judgment masyarakat. Tak hanya itu, bahkan pada tahun 2025, komputerisasi terutama kemajuan Artificial Intelligence (AI) diramalkan oleh World Economic Forum (2020) akan menyebabkan ”labour winter”.
Sebesar 85 juta orang akan mengalami PHK. Kelas Menengah yang erat dengan sektor formal tentu akan sangat terpukul dengan kejadian ”labour winter”.
Akibat komputerisasi, hanya terdapat dua pilihan yakni menjadi kelompok kaya atau kelompok miskin karena akan banyak autonomous job yang memerlukan robot dalam melakukan banyak pekerjaan.
Walaupun masih terlihat samar namun cepat atau lambat paradoks ini akan terjadi dengan mulai bermunculannya gignomics di berbagai negara dan manusia hanya menjadi ”tenaga bantu”. Bahkan beberapa Gen-Z merasa nyaman akan pola kerja tersebut karena tidak terikat pada waktu dan perjanjian kerja.
Merosotnya Pendapatan
Beberapa pihak menilai bahwa pada tahun 2025, nilai Gignomics di Indonesia akan mencapai US$ 146 billion atau sekitar 10,09 persen dari PDB. Kenyamanan hubungan bekerja informal tentu akan berdampak pada merosotnya pendapatan expanding middle class dan kelas miskin tetapi terus meningkatkan kekayaan kelas atas.
Dalam jangka panjang akan berbentuk seperti batu nisan yang hanya terbagi pada dua sisi. Hal itu tentu akan menjadi cara pandang baru kita dalam melihat perekonomian dari berbentuk piramida menjadi batu nisan.
Hipotesis batu nisan mengemukakan di masa depan struktur kelas pendapatan di negara maju dan berkembang akan semakin terpolarisasi dengan hilangnya kelas menengah dan terbentuknya dua kutub ekstrem yakni kaya dan miskin.
Pemikiran ini berakar pada pengamatan tentang demografi, perkembangan teknologi, dan kondisi ekonomi global yang terus berubah.
Terperangkap Kemiskinan
Situasi negara maju saat ini menghadapi masalah populasi yang menua seperti Jepang, Jerman, dan Italia. Proses penuaan bukan hanya mengubah komposisi demografis, tetapi juga mempengaruhi pasar tenaga kerja dan produktivitas ekonomi secara keseluruhan.
Banyak individu pada kelompok aging population tidak memiliki keterampilan yang relevan untuk beradaptasi dengan teknologi modern, yang semakin mendominasi dunia kerja. Ketidakmampuan untuk beradaptasi dengan era digital mengakibatkan mereka terperangkap dalam kemiskinan.
Dalam dunia kerja yang semakin terotomasi dan berbasis teknologi, pekerjaan tradisional yang dulunya dapat diakses oleh semua kalangan kini menjadi langka. Mereka yang tidak mampu mengikuti perkembangan akan kehilangan akses terhadap lapangan pekerjaan yang layak.
Dengan demikian, jatuh ke dalam kategori kelompok miskin. Di sisi lain, individu yang mampu mengembangkan keterampilan baru, terutama dalam teknologi informasi dan inovasi, akan meraih keuntungan yang signifikan.
Struktur Berubah
Kondisi struktur kelas kondisi negara berkembang saat ini masih berbentuk piramida. Kelas menengah berfungsi sebagai penyangga ekonomi. Namun, dengan semakin meningkatnya tekanan biaya hidup dan perubahan demografis, ada risiko nyata bahwa struktur ini akan berubah.
Kelas menengah yang berjuang untuk bertahan di tengah kenaikan biaya hidup akibat data inflasi semu dan kurangnya akses terhadap pendidikan dan teknologi berkualitas dapat dengan mudah tergerus menjadi kelompok miskin.
Return of education Indonesia yang rendah diiringi dengan tidak link n match antara pendidikan dan kebutuhan industri akan menjadi sangat menantang.
Tren depopulasi tidak dapat diabaikan. Banyak negara berkembang menghadapi tantangan dalam hal pertumbuhan populasi, yang dipicu oleh berbagai faktor, termasuk urbanisasi, migrasi, dan penurunan angka kelahiran.
Depopulasi mengakibatkan berkurangnya tenaga kerja dan pada gilirannya membuat hilangnya kelas menengah. Di lingkungan di mana populasi menua dan jumlah pekerjaan berkurang, kelas menengah yang selama ini menjadi stabilisator ekonomi akan hilang dan mendorong banyak individu ke dalam lingkaran kemiskinan.
Muncul Ketidakpuasan
Hipotesis batu nisan menunjukkan bahwa tanpa intervensi yang tepat, Indonesia menuju jebakan struktur kelas yang semakin ekstrem di mana kelas menengah akan lenyap. Ketidakpuasan sosial yang muncul akibat ketidaksetaraan dapat memicu konflik, mengganggu stabilitas politik dan sosial.
Kesenjangan yang lebar antara kaya dan miskin dapat menyebabkan ketidakpuasan masyarakat yang luas, memicu protes, dan bahkan krisis sosial yang lebih besar. Hal ini harus menjadi ”warning alert” bagi pemerintahan baru.
Kebijakan yang inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan sangat perlu untuk mencegah pergeseran ini seperti peningkatan akses pendidikan, pelatihan keterampilan digital, dan dukungan bagi individu untuk beradaptasi dengan perubahan pasar kerja.
Investasi dalam infrastruktur pendidikan dan program pelatihan harus dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat dan terintegrasi dengan industri besar sangat penting. Dari sisi permintaan, skema Universal Basic Income (UBI) yang disesuaikan dengan kemampuan fiskal menjadi relevan dan mendesak di mana dapat dilakukan dengan melakukan pergeseran skema subsidi energi.
Hipotesis batu nisan memberikan wawasan yang mendalam tentang dinamika kelas sosial dan ekonomi yang berkembang. Dengan memahami bagaimana penuaan populasi dan kemajuan teknologi dapat memengaruhi struktur kelas kita dapat mulai merumuskan strategi untuk mencegah polarisasi ekstrem.
- Penulis, Jonathan Ersten Herawan SE CFA, Mahasiswa Prodi Magister Ekonomi Terapan Unika Atmajaya Jakarta, Junior Analyst PP ISEI & Research Assistant Prodi Ekonomi Pembangunan FBE UAJY






