JOGJA, bisnisjogja.id -Judi online masih terus marak bahkan ada kabar menyebutkan dugaan keterlibatan elite. Karena itu, negara dianggap gagal menyelesaikan persoalan tersebut.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Andreas Budi Widyanta MA menegaskan hal itu menanggapi maraknya judi online yang terus terjadi.
”Judi online terus berkembang pesat di tengah situasi lesunya ekonomi Tanah Air. Sejak era teknologi digital ini masuk, judi online menjadi bagian dari tantangan perkembangan teknologi,” ujar Andreas, Selasa (22/4/2025).
Ia melihat judi online merupakan sistem yang dibuat dengan gamifikasi, sehingga memunculkan rasa senang dan kenikmatan sehingga orang akan terus bermain.
Menurutnya, banyak orang yang belum menyadari kalah atau menang dalam judi online bukan soal peruntungan, namun merupakan bagian dari sistem yang mengatur dan memunculkan rasa kecanduan.
Pasar Empuk
Andreas mengatakan Indonesia dengan jumlah populasi mencapai 284 juta jiwa tentu merupakan pasar yang empuk bagi korporasi judi online.
Apalagi berdasarkan data, jumlah pengguna internet terus naik setiap tahunnya. Bisa jadi fenomena judi online juga dimanfaatkan dalam technopolitics sebagai alat intervensi atau eksploitasi politik.
”Polemik judi online bukan masalah yang mengakar kuat pada satu sektor tertentu, melainkan sudah menjaring di berbagai sektor, saling terhubung, dan sulit ditangani,” jelasnya.
Menanggapi isu keterlibatan elite Indonesia dalam jaringan judi online, ia mengakui bukan rahasia lagi jika siapapun bisa terlibat dalam sistem judi online.
Judi online menyasar tanpa pandang bulu, tidak terpaku pada status ekonomi, jabatan, kewarganegaraan, siapapun bisa terjerat dalam sistem sebagai korban maupun pelaku.
”Tidak aneh juga jika elite terlibat. Ini menunjukkan bahwa negara tidak tunggal, pejabat sendiri bisa ambil bagian,” tandasnya.





