JOGJA, bisnisjogja.id – ”Saat ini industri galangan kapal sedang tidak baik-baik saja karena berbagai kendala,” ungkap Ketua Umum DPP Institusi Perkapalan dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo), Anita Puji Utami.
Ia mengungkapkan kondisi tersebut pada FGD dan Rapat Kerja ”Peningkatan Kualitas dan Inovasi Kecepatan Layanan Produksi Yang Lebih Efektif dan Efisien dalam Mendukung Kehandalan Armada Pelayaran Nasional”.
Diskusi berlangsung di Hotel Santika, Yogyakarta, Sabtu (1/2/2025). Sejumlah narasumber menyampaikan gagasannya. Kehadiran anggota DPR RI Komisi VII, Bambang Harjo Soekartono menambah hangat diskusi.
Anita mengatakan industri galangan kapal memerlukan dukungan pemerintah supaya dapat bertahan bahkan berkembang. Dukungan dapat berupa pengurangan regulasi yang membuat industri susah berkembang.
”Harus ada penyederhanaan sejumlah regulasi yang justru membuat industri galangan kapal susah berkembang,” tegasnya.
Belum Optimal
Ia menjelaskan industri perkapalan mempunyai potensi strategis. Sektor ini berkontribusi serta memajukan pertumbuhan industri komponen, meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan mengurangi kemiskinan.
Keberadaan galangan kapal sangat penting untuk memacu pertumbuhan ekonomi nasional maupun daerah pesisir. Selain itu mendukung kelancaran arus logistik transportasi Indonesia.
”Sayangnya potensi besar tersebut belum dimanfaatkan secara optimal karena dukungan pemerintah yang belum kuat meskipun UU Pelayaran sudah mengamanatkannya,” tandas Anita.

Kendala Serius
Menurut Anita, industri perkapalan menghadapi kendala serius, mulai dari minimnya
order kapal baru hingga hantaman melemahnya kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Kendala lain, tingginya bea masuk komponen. Pembiayaan pembangunan kapal di daerah domestik relatif sulit diperoleh dari lembaga keuangan dalam negeri. Suku bunga relatif lebih tinggi dibandingkan dengan suku bunga perbankan atau
lembaga pembiayaan di luar negeri.
”Selain itu, industri penunjang atau komponen belum bertumbuh sehingga 60 – 70 persen dari komponen kapal masih impor,” ujarnya.
Persoalan krusial yang dihadapi industri galangan kapal hingga saat ini, pembangunan kapal baru di luar negeri sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Belum lagi soal peningkatan SDM agar kualitas produksi semakin bagus.





