JOGJA, bisnisjogja.id – Berdasarkan wilayah pemantauan, inflasi (y-o-y) tertinggi di Provinsi DIY terjadi di Kota Yogyakarta yaitu sebesar 3,18 persen, sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Gunungkidul sebesar 2,69 persen.
Hal itu disampaikan Plt Kepala BPS Provinsi DIY, Ir Endang Tri Wahyuningsih MM dalam siaran pers tertulisnya. Ia menyampaikan data statistik di DIY setiap bulan sekali.
Ditambahkannya, secara bulanan, Kota Yogyakarta juga mencatat inflasi (m-to-m) lebih tinggi yaitu 0,46 persen dibandingkan Kabupaten Gunungkidul yang mengalami inflasi 0,28 persen.
Di Kabupaten Gunungkidul, inflasi (m-to-m) utamanya didorong oleh kenaikan harga bensin (andil 0,20 persen), bawang merah dan bawang putih (masing-masing andil 0,05 persen), serta wortel (andil 0,03 persen).
Di sisi lain, penurunan harga daging ayam ras (andil -0,06 persen) dan cabai rawit (andil -0,03 persen) menahan laju inflasi di kabupaten ini.
Sementara itu, di Kota Yogyakarta, kenaikan harga bensin juga menjadi penyumbang utama inflasi dengan andil 0,29 persen, diikuti tarif kereta api (andil 0,05 persen) dan angkutan udara (andil 0,04 persen).
Penurunan harga daging ayam ras (andil -0,05 persen) dan emas perhiasan (andil -0,04 persen) menjadi penahan inflasi di kota ini pada periode Juni 2026.







