Pertumbuhan Ekonomi vs Inflasi

oleh -137 Dilihat
Ekonom FBE UAJY, Andreas Sukamto.(Foto: istimewa)

 

  • Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mendorong perekonomian mengalami overheating yang mendorong kenaikan inflasi.
  • Investasi rendah menyebabkan pertumbuhan ekonomi rendah yang berdampak deflasi dan mendorong tingkat pengangguran tinggi.
  • Inflasi dan pengangguran harus senantiasa dikendalikan.

 

PERTUMBUHAN ekonomi merupakan kenaikan jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara dari waktu ke waktu, bisa triwulan, kwartalan, semesteran dan tahunan. Produksi barang dan jasa akhir yang diproduksi dalam suatu negara disebut sebagai Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP).

Laju pertumbuhan PDB inilah yang disebut sebagai pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi dipengaruhi oleh kenaikan konsumsi masyarakat, kenaikan investasi sektor bisnis, kenaikan pengeluaran pemerintah, kenaikan ekspor netto, tabungan, tingkat bunga, inflasi dan pengangguran.

Dalam perekonomian yang mendasarkan pada mekanisme pasar, memperbolehkan produksi dan distribusi barang dan jasa dilakukan oleh orang per orang dan dipertukarkan di pasar melalui interaksi antara penawaran dan permintaan.

Pasar membentuk harga yang menentukan jumlah yang dapat dibeli oleh masyarakat dengan harga tersebut. Pada sistem ini harga adalah isyarat untuk mengambil keputusan. Di dalam sistem pasar yang demikian, perekonomian selalu mengalami fenomena gelombang pasang surut secara periodik.

Dalam teori ekonomi gejala seperti itu merupakan siklus bisnis atau konjungtur. Ekonomi tidak bisa tumbuh terus tanpa batas, selalu menghadapi fenomena gelombang pasang surut pertumbuhan ekonomi (PDB).

Peran Pemerintah dan Bank Sentral

Pertama, pada saat gelombang pasang, dimana investasi lebih besar dari tabungan. Pada saat investasi terlalu tinggi, akan mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi mendorong perekonomian mengalami overheating yang mendorong kenaikan inflasi.

Ingat, perekonomian tidak tumbuh terus tanpa batas. Di sini peran pemerintah dan bank sentral untuk mengendalikan perekonomian. Tujuannya, dalam jangka pendek dalam batas-batas yang ”aman” dari inflasi dan pertumbuhan ekonomi (pengangguran).

Pasalnya, variabel tersebut dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada sosial ekonomi, tetapi juga sosial politik.

Dalam kondisi perekonomian seperti itu, pada jangka pendek bisa diredam melalui kebijaksanaan anggaran surplus yang bersifat kontraktif. Pemerintah memanipulasi sedemikian rupa agar sisi penerimaan pemerintah (sebagian besar dari pajak) lebih besar dari sisi pengeluaran pemerintah.

Menaikkan Pajak, Menurunkan Pengeluaran

Kebijaksanaan anggaran surplus yang bersifat kontraktif dilakukan dengan menaikkan pajak dan atau menurunkan pengeluaran pemerintah di APBN. Melalui kebijaksanaan ini pemerintah berusaha untuk meraup sebagian daya beli masyarakat, sehingga permintaan barang dan jasa secara agregat turun dan inflasi bisa turun, sehingga perekonomian akan relatif stabil.

Sedangkan instrumen moneter bank sentral yakni kebijaksanaan moneter yang bersifat kontraktif melalui kebijaksanaan moneter ketat (Tight Monetary Policy / TMP). Melalui TMP, bank sentral memperketat jumlah uang beredar yang berdampak pada kenaikan suku bunga.

Kenaikan suku bunga berimbas pada sektor bisnis dan konsumsi masyarakat. Pada sektor bisnis, kenaikan itu berdampak pada investasi akan turun, karena cost of fund semakin mahal. Pada sektor konsumsi masyarakat juga akan mengalami penurunan, karena banyak kredit konsumsi akan ditunda.

Kedua variabel tersebut merupakan pembentuk permintaan agregat. Dengan demikian melalui kebijaksanaan moneter ketat, permintaan agregat turun dan inflasi bisa dikendalikan.

Kebijaksanaan Anti Inflasi

Gelombang pasang ini bisa dikendalikan melalui kebijaksanaan antisiklis, baik melalui kebijaksanaan anggaran surplus yang bersifat kontraktif maupun kebijaksanaan moneter ketat yang bersifat kontraktif.

Kebijaksanaan pemerintah dan bank sentral tersebut merupakan kebijaksanaan anti inflasi. Namun demikian, ketika permintaan agregat dikendalikan turun maka ada kecenderungan pertumbuhan ekonomi akan turun, yang berarti kesempatan kerja turun dan tingkat pengangguran meningkat.

Fenomena itu menunjukkan dalam jangka pendek ada kecenderungan hubungan kebalikan (trade off) antara inflasi dengan tingkat pengangguran.

Apabila para penentu kebijakan ekonomi menghendaki tingkat inflasi yang rendah, maka trade off-nya adalah tingkat pengangguran akan tinggi. Begitu pula jika dikehendaki tingkat pengangguran rendah yang berarti pertumbuhan ekonomi tinggi maka trade off-nya inflasi akan tinggi.

Kedua variabel, inflasi dan pengangguran dalam jangka pendek harus dikelola oleh pemerintah dan bank sentral dalam batas-batas yang aman. Dalam jangka panjang, kedua variabel tidak hanya berdampak pada sosial ekonomi tetapi juga sosial politik. Dalam jangka pendek apabila perekonomian stabil, maka dalam jangka panjang pertumbuhan ekonomi akan bisa dicapai.

Sejarah telah membuktikan, pemerintahan di banyak negara akan runtuh pada saat inflasi yang tinggi atau hyper inflation, dengan pertumbuhan ekonomi yang rendah dan tingkat pengangguran yang tinggi serta krisis keuangan.

Gelombang Surut, Investasi Kecil

Kedua: Pada saat gelombang surut, investasi lebih kecil daripada tabungan atau saving. Pada saat investasi terlalu rendah menyebabkan pertumbuhan ekonomi rendah yang berdampak perekonomian akan mengalami deflasi dan mendorong tingkat pengangguran tinggi.

Sebaliknya dalam kondisi perekonomian yang demikian ini bisa dikendalikan oleh pemerintah melalui kebijaksanaan anggaran defisit yang bersifat ekspansif. Itu dilakukan dengan memanipulasi sedemikian rupa sehingga sisi penerimaan pemerintah ( sebagian besar dari pajak) lebih kecil dari sisi pengeluaran pemerintah.

Kebijaksanaan anggaran defisit yang bersifat ekspansif dilakukan dengan menurunkan pajak dan atau menaikkan pengeluaran pemerintah. Pemerintah berusaha mengdongkrak sebagian daya beli masyarakat. Kenaikan daya beli berimbas pada kenaikan permintaan agregat barang dan jasa, sehingga membuka kesempatan kerja dan bisa menurunkan tingkat pengangguran.

Apabila pemerintah terlalu intervensi pasar uang di dalam menutup defisit APBN akan terjadi ”crowding out effect”. Apabila pemerintah terlalu intervensi menutup defisit APBN, melalui penerbitan obligasi (bonds), maka obligasi akan dipegang oleh masyarakat dan uang mengalir ke pemerintah.

Penawaran Uang Turun

Ada kecenderungan penawaran uang akan turun. Turunnya penawaran uang atau dana berimbas pada kenaikan suku bunga. Kenaikan suku bunga menyebabkan investasi sektor bisnis akan menurun, yang disebut sebagai ”crowding out effect”.

Kenaikan suku bunga juga berpengaruh pada kredit konsumsi menurun, sehingga konsumsi masyarakat turun. Turunnya investasi sektor korporasi dan sektor konsumsi masyarakat berimbas pada pertumbuhan ekonomi yang stagnan bahkan ada kecenderungan menurun, sebagai dampak dari ”crowding out effect”.

Di samping itu apabila defisit APBN dibiayai utang luar negeri, maka dari waktu ke waktu ada kecenderungan rasio defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB) akan mengalami kenaikan.

Dari paparan diatas, paling tidak menunjukkan bahwa dalam perekonomian ada harga yang harus dibayar. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang gratis. Apabila suatu kebijakan ekonomi diterapkan di dalam suatu perekonomian pasti ada opportunity cost .

Agar inflasi bisa dikendalikan rendah dan pertumbuhan ekonomi tidak jatuh terlalu dalam, maka pemerintah bisa melakukan pilihan kebijakan dengan menutup defisit anggaran melalui utang luar negeri. Opportunity cost-nya, rasio defisit anggaran terhadap produk domestik bruto (PDB) dan rasio utang terhadap PDB ada kecenderungan meningkat.

Kebijakan Moneter Bank Sentral

Bank sentral melalui instrumen moneter mengeluarkan kebijakan moneter yang bersifat ekspansif dengan melonggarkan likuiditas perekonomian melalui kebijakan moneter longgar (Easy Montery Policy/EMP).

Dengan melonggarkan likuiditas yakni menambah uang beredar, akan berdampak pada penurunan suku bunga. Penurunan suku bunga berimbas pada sektor korporasi dan konsumsi masyarakat. Karena relatif murahnya ”harga’uang”, sektor bisnis akan meningkatkan investasinya begitu pula sektor konsumsi masyarakat melalui kredit konsumsi.

Kenaikan investasi sektor bisnis dan konsumsi masyarakat berimbas pada kenaikan permintaan agregat, sehingga kesempatan kerja akan naik dan tingkat pengangguran turun.

Masing-masing kebijakan, melalui instrumen fiskal dan instrumen moneter bagaikan sekeping mata uang, ada sisi positifnya dan ada dampak negatifnya. Maka agar kebijakan memperoleh hasil optimal, ada bauran kebijakan, yaitu melalui fiscal–monetary policy mix.

Hal itu untuk mengendalikan gelombang pasang surutnya perekonomian jangka pendek di dalam suatu negara. Pengalaman empiris banyak negara, kedua variabel yaitu inflasi dan pengangguran harus senantiasa dikendalikan. Dalam jangka panjang tidak hanya berdampak pada sosial ekonomi, tetapi juga sosial politik.

  • Penulis, Andreas Sukamto, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan FBE Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

No More Posts Available.

No more pages to load.