Kadin DIY: Perlu Konsistensi Kebijakan Pemerintah Daerah untuk Sanitasi Inklusif

oleh -175 Dilihat
SUVENIR: Rahadi Saptata Abra dari Kadin DIY memberikan cendera mata kepada Prof Pai-Chi Li selaku President Asian Institute of Technology (AIT).(Foto: istimewa)

BANGKOK, bisnisjogja.id – Agenda internasional IWA Water and Development Congress & Exhibition (WDCE) 2025 berlangsung di Queen Sirikit National Convention Center (QSNCC), Bangkok, pada 8–12 Desember 2025.

Kegiatan tersebut mengusung tema ”Water, Sanitation, and Innovation – Pathways to Progress and a Resilient Future”. Forum global ini menjadi ruang strategis pertukaran gagasan dan kolaborasi lintas negara dalam penguatan akses air minum, sanitasi, dan inovasi berkelanjutan.

Delegasi Indonesia hadir dengan komposisi lintas unsur, meliputi Pijar Foundation (yayasan/NGO), Dinas Pendidikan dan Bappeda Surakarta, Balai Teknologi Sanitasi Kementerian PUPR, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung, Kadin DIY serta Pura Mangkunegaran.

Kehadiran beragam pemangku kepentingan tersebut memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis dalam percakapan global terkait sanitasi inklusif dan tata kelola layanan berkelanjutan.

Layanan Sanitasi

Ketua Kompartemen Kadin DIY, Fajarruddin Achmad menjelaskan menjelang pembukaan resmi kongres pada 9 Desember 2025, delegasi Indonesia menggelar forum khusus bertajuk ”Strengthening Partnerships in Indonesia”.

”Forum menyoroti penguatan kemitraan multipihak untuk percepatan layanan sanitasi, termasuk pembahasan program sanitasi oleh masyarakat (sanimas) sebagai pendekatan sanitasi berbasis komunitas bagi permukiman perkotaan berpenghasilan rendah,” paparnya.

Ia menegaskan keberhasilan program sanitasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan pendanaan, tetapi juga oleh konsistensi kebijakan pemerintah daerah.

Dukungan regulasi, perizinan, dan tata kelola layanan dinilai menjadi kunci keberlanjutan, terutama di kawasan perkotaan Yogyakarta yang memiliki tantangan teknis akibat infrastruktur lama peninggalan era kolonial.

Sosial Budaya

Sementara itu, perwakilan Pura Mangkunegaran, KGPAA Mangkunegara X (Gusti Bhre), menekankan pentingnya pendekatan sosial-budaya dalam mendorong keberhasilan sanimas.

Menurutnya, peran institusi budaya dalam membangun narasi, nilai, dan keteladanan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat serta memperkuat komitmen pemerintah daerah agar sanitasi menjadi standar layanan publik yang berkelanjutan, bukan sekadar proyek jangka pendek.

Melalui partisipasi aktif selama lima hari penuh rangkaian WDCE 2025, Kadin DIY bersama delegasi Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendorong kolaborasi sanitasi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global.

No More Posts Available.

No more pages to load.