Kelas Menengah Paling Rentan Terpukul Krisis

oleh -14 Dilihat
Sosiolog UGM, Dr Arie Sujito.(Foto: dok UGM)

JOGJA, bisnisjogja.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berkali-kali mengalami pelemahan. Kondisi itu kian memicu kekhawatiran publik terhadap stabilitas ekonomi domestik.

Gejolak kurs paling memukul kelompok kelas menengah yang selama ini hidup dalam kondisi serba ”cukup” namun minim bantalan finansial. Pelemahan rupiah bukan lagi sekadar angka di layar pasar spot, melainkan ancaman nyata bagi daya beli, nilai tabungan, portofolio investasi, hingga rasa aman ekonomi mereka.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Arie Sujito menegaskan kejatuhan rupiah membawa dampak langsung pada tatanan sosial ekonomi masyarakat perkotaan. Lonjakan biaya hidup memaksa pos pengeluaran rumah tangga dihitung ulang, di mana konsumsi sekunder mulai dipangkas demi mempertahankan kebutuhan pokok.

Menurut Arie, hantaman kian diperparah oleh tensi geopolitik global, seperti konflik Iran-Israel yang menyeret AS dan sekutunya. Ketegangan tersebut mengerek harga minyak mentah dunia yang memicu efek domino pada kenaikan biaya produksi dan logistik di dalam negeri.

Pengaruh Situasi Global

Situasi global otomatis menjepit ruang fiskal pemerintah dalam mempertahankan subsidi energi dan pangan. Arie memperingatkan bahwa kelompok kelas menengah dan masyarakat bawah menjadi garda terdepan yang paling cepat merasakan dampak dari memburuknya indikator makro tersebut.

”Kalau negara tidak memiliki kemampuan mengatasi secara cepat, dampaknya akan beruntun,” ungkap Arie, Kamis (21/5/2026).

Ia menambahkan, tekanan ekonomi yang dibiarkan berlarut-larut berpotensi besar bermutasi menjadi persoalan sosial yang lebih luas. Ketika masyarakat mulai kesulitan memenuhi kebutuhan primer, stabilitas sosial dipertaruhkan karena runtuhnya rasa aman terhadap keberlangsungan hidup mereka.

”Kalau sudah masuk ke kebutuhan primer itu akan punya dampak secara sosial,” jelasnya lebih lanjut.

Di sisi lain, efektivitas jaring pengaman sosial pemerintah mulai dipertanyakan. Meski berbagai program perlindungan sosial telah digulirkan untuk menjaga daya tahan masyarakat, instrumen tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menjawab krisis riil di lapangan.

Jurang Pemisah

Arie melihat adanya jurang pemisah antara kebijakan makro yang dirancang di atas kertas dengan realitas yang dihadapi konsumen sehari-hari. Akibatnya, intervensi ekonomi dan bantuan sosial (bansos) saat ini dinilai belum cukup kuat menahan laju kerentanan sosial.

”Terjadi diskoneksi antara upaya-upaya program yang dilakukan itu dengan krisis yang terjadi,” tutur Arie.

Kondisi kian rumit akibat menyusutnya kapasitas fiskal di tingkat pusat dan daerah, yang berujung pada pemangkasan transfer dana ke daerah. Dampaknya mulai menggerogoti sektor pelayanan publik dan pendidikan yang kini harus beroperasi di tengah keterbatasan anggaran yang ketat.

Arie mengingatkan pemerintah agar segera merumuskan kebijakan darurat yang taktis dan tepat sasaran. Jika tidak, tekanan ekonomi pada kelas menengah ini dikhawatirkan memicu krisis sosial-politik dan mengikis tingkat kepercayaan publik.

No More Posts Available.

No more pages to load.