BANYAK pihak menyatakan Idulfitri atau Lebaran 2025 ini akan dibarengi dengan daya beli masyarakat. Penulis sependapat dengan pernyataan tersebut.
Di sisi lain, Menkeu RI Sri Mulyani menyatakan beberapa daerah tujuan mudik diharapkan memperoleh dampak dari aktivitas konsumsi atau belanja pemudik.
Pendapat tersebut ada benarnya, namun dugaan penulis dampak belanja pemudik terhadap perekonomian daerah tidak sebesar tahun lalu. Dengan demikian efek pengganda (multiplier effect) ekonomi yang terjadi lebih rendah.
Berdasarkan beberapa sumber yang penulis peroleh terdapat sejumlah indikasi yang mendukung bahwa daya beli masyarakat memasuki Ramadan dan Lebaran cenderung menurun. Beberapa indikasi diantaranya sebagai berikut.
Pemudik Turun
Pertama, menurut hasil survei Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan RI (2025) bersama sejumlah akademisi, jumlah pemudik turun 24,34 persen dari 193,6 juta orang tahun lalu menjadi 146,48 juta orang pada Lebaran tahun ini.
Kedua, data Sistem Informasi Angkutan dan Sarana Transportasi Indonesia (Siasati) menunjukkan akumulasi pergerakan penumpang dari lima moda transportasi umum hingga H-3 Lebaran sebesar 6,75 juta orang atau turun 4,8 persen dari tahun lalu.
Penurunan paling tajam terjadi pada moda bus antar kota antar provinsi (AKAP) yaitu 10,2 persen. Selanjutnya moda pesawat yang turun 6,8 persen dan kapal laut 4,8 persen.
Ketiga, berdasarkan data Badan Pusat Stastistik (Februari2025) terjadi deflasi 0,09 persen (year to year), inflasi 0,48 persen (month to moth) dan 1,24 persen (year to date).
Data Bank Indonesia (Februari 2025) menunjukkan Indeks Penjualan Riil (IPR) turun sebesar 0,5 persen (year on year). Hal tersebut karena turunnya penjualan kelompok makanan, minuman dan tembuka sebesar1,7 persen.
Keempat, data Bank Indonesia (Februari 2025) juga menunjukkan transaksi belanja melalui ATM dan kartu debit turun empat persen dan pertumbuhan kartu kredit hanya tumbuh delapan persen padahal tahun sebelumnya tumbuh sebesar 28 persen.
Kelas Menengah
Indikasi turunnya daya beli masyakat sebenarnya sudahterjadi sejak pertengahan tahun lalu. Hal tersebut sejalan denganmenurun jumlah kelas menegah di Indonesia. Setidaknya adabeberapa penyebab menurunn ya daya beli menjelang Lebaran tahun ini.
Pengamatan penulis dan beberapa sumber pendukung, penyebabnya adalah terjadinya pengurangan lapangan kerja atau jam kerja di sektor industri.
Berikutnya, maraknya pemutusan hubungan kerja di sektor industri manufaktur dan sektor industrilainnya.
Kondisi ekonomi meenjadikan masyarakat cenderung lebih berhemat dan menabung untuk berjaga-jaga (precautionary saving).
Penulis berharap meskipun daya beli menurun, belanja pemudik dan wisatawan Lebaran dapat dinikmati pelaku usahakuliner, penginapan, transportasi dan destinasi wisata.
Pelaku UMKM juga dapat menikmati berkah Lebaran dengan meningkatnya omzet usaha mereka. Jika ternyata omzet penjualan tidak setinggi tahun lalu, pelaku UMKM diharapkan dapat memakluminya.
Sebagai pelaku di industri perbankan, penulis berharap transaksi yang dilakukan oleh pemudik, wisatawan dan penjual selama liburan Lebaran dilakukan dengan pembayaran digital.
Dengan pembayaran digital (cashless) akan diperoleh manfaat yakni cepat, aman, fleksibel, transparan, hemat biaya, dan memudahkan pencatatan transaksi.
Selamat Idulfitri 1446 H, mohon maaf lahir dan batin.
- Penulis, Dian Ariani SE MM, Direktur Kepatuhan Bank BPD DIY





